Allah Melawat Umat-Nya

Khotbah Untuk : 21 Dec 2025
🏷Bacaan Advent IV
Nats: Yesaya 62:1–5
👁 47x dibaca
belum ada rating

I. Pembukaan Khotbah (Ice Breaker + Pertanyaan Retoris)

Seorang ayah pernah menunggu anaknya pulang larut malam. Ia tidak marah, tetapi gelisah. Ia duduk di teras sampai dini hari. Ketika anaknya tiba, sang ayah berkata, “Aku tidak bisa tidur sebelum engkau ada di rumah.” Saudara, pernahkah kita menyadari bahwa Allah juga demikian—Ia tidak berdiam terhadap umat-Nya? Ia melawat, Ia bertindak, Ia memulihkan.

Yesaya 62 lahir pada masa umat Tuhan masih hidup dalam bayang-bayang kehancuran dan pembuangan. Mereka bertanya: Apakah Allah sudah meninggalkan kami? Justru di sini Allah menyatakan: “Aku tidak akan tinggal diam karena engkau.” Tema kita hari ini: “Allah Melawat Umat-Nya.” Dalam lawatan itu, Allah melakukan tiga pekerjaan besar: Ia membenarkan, memulihkan, dan menikahkan kembali umat-Nya.

Poin 1 — Allah Melawat dengan Menegakkan Kebenaran Umat-Nya (ay. 1–2)

Ayat 1 berkata, “Demi Sion aku tidak akan berdiam diri, dan demi Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang.” Kata “tidak berdiam diri” dalam bahasa Ibrani memakai akar ḥāšâ, artinya: tidak tinggal pasif, tidak menunda, tidak menahan diri.

1. Allah tidak tinggal diam melihat penderitaan umat-Nya

  • Mereka merasa dibuang, tidak berharga; namun Allah menyatakan Ia bekerja terus, bahkan ketika mereka tidak menyadarinya.
  • Hari ini pun, ketika PNS menghadapi tekanan kerja, pedagang mengalami rugi, atau orang tua kelelahan, Allah tidak tinggal diam.

2. Allah menegakkan kebenaran umat-Nya seperti cahaya (ay.1)

  • Kata “kebenaran” memakai istilah ṣĕdāqāh — bukan sekadar moralitas, tetapi pembenaran dan pemulihan reputasi oleh Allah.
  • Artinya: Allah sendiri mengangkat kembali kehormatan umat yang pernah jatuh.

3. Kemuliaan umat menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa (ay.2)

  • Kebenaran itu “bersinar seperti terang” — memakai kata nogah (kilauan yang sulit diabaikan).
  • Dunia mengenali lawatan Allah melalui perubahan hidup umat-Nya.

Ayat Paralel:

  • Yesaya 60:1 – “Bangkitlah, menjadi teranglah sebab terangmu datang.”
  • Mazmur 37:6 – Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang.

Transisi: Jika Allah menegakkan kebenaran umat-Nya, Ia juga melawat dengan memulihkan identitas dan memberikan nama baru.

Poin 2 — Allah Melawat dengan Memulihkan Identitas (ay. 2–3)

1. Allah memberi nama baru kepada umat-Nya (ay.2)

  • Nama baru menggambarkan identitas baru. Ibrani memakai frasa šēm ḥādāš — nama yang belum pernah ada sebelumnya.
  • Umat bukan lagi “yang ditinggalkan” tetapi umat yang dimiliki Allah.
  • Bagi kita: dari “tidak berdaya” menjadi “berharga”; dari “takut” menjadi “yang dikasihi.”

2. Allah memandang umat sebagai “mahkota keindahan” (ay.3)

  • Istilah “mahkota” adalah ʿăṭārâ, simbol kehormatan raja.
  • Gambaran ini menunjukkan nilai umat di mata Allah—kita bukan sampingan, tetapi kesayangan-Nya.
  • Ilustrasi: Seperti seorang kolektor merawat barang antik yang tak ternilai, demikian Allah memulihkan kita dengan hati-hati.

3. Pemulihan Allah bersifat publik dan nyata

  • Ayat 3 menegaskan bahwa pemulihan itu “di tangan TUHAN”. Artinya, semua orang akan tahu bahwa perubahan itu berasal dari Allah.

Ayat Paralel:

  • Wahyu 2:17 – Allah memberi nama baru kepada pemenang.
  • Yesaya 43:1 – “Aku menebus engkau, Aku memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.”

Transisi: Namun pemulihan identitas bukanlah tujuan akhir. Allah melawat dengan tujuan terdalam: memulihkan hubungan-Nya dengan umat-Nya seperti hubungan mempelai.

Poin 3 — Allah Melawat dengan Memulihkan Relasi Kasih (ay. 4–5)

1. Dari “yang ditinggalkan” menjadi “yang berkenan” (ay.4)

  • Ada dua nama lama: Azubah (ditinggalkan) dan Shemah (yang sunyi). Kedua nama ini menggambarkan luka batin Israel.
  • Allah menggantinya dengan Hepzibah — “perkenanan-Ku ada padamu.”
  • Allah tidak hanya memulihkan keadaan; Ia memulihkan hati.

2. Allah menggambarkan diri sebagai mempelai yang bersukacita (ay.5)

  • Kasih Allah bukan kasih fungsional, tetapi kasih relasional.
  • Kata “bersukacita” memakai istilah yāśîś — sukacita yang meluap, bukan sekadar senang.
  • Allah tidak hanya memilih umat-Nya; Ia menggembirakan diri atas mereka.

3. Relasi ini membawa kesetiaan dan kepastian

  • Seperti pernikahan yang sah, relasi Allah dan umat-Nya tidak akan mudah digoyahkan.
  • Ini memberi keteguhan bagi keluarga, pekerja, pemuda, dan orang tua yang merasa tidak aman.

Ayat Paralel:

  • Hosea 2:19–20 – Allah mengikat perjanjian pernikahan yang kekal dengan Israel.
  • Efesus 5:25–27 – Kristus mengasihi jemaat sebagai mempelai.

Penutup Khotbah

Saudara, Allah yang melawat Sion adalah Allah yang melawat hidup kita hari ini. Ia tidak tinggal diam. Ia bekerja tanpa henti menegakkan kebenaran kita, memulihkan identitas kita, dan mengikat kita kembali dalam kasih yang tak tergoyahkan.

Seruan Respons Jemaat:
Mari membuka hati dan berkata: “Ya Tuhan, lawatlah aku—pulihkan namaku, terangilah jalanku, kuatkan relasiku dengan Engkau. Jadikan aku gemilang di tangan-Mu.”

Penutup Puitis:
Ketika malam terasa panjang, Allah menyalakan fajar. Ketika hati remuk, Ia memberi nama baru. Ketika hidup rapuh, Ia memeluk dengan sukacita seorang mempelai. Biarlah lawatan-Nya menjadi nyanyian perjalanan hidup kita.

Pantun:
Pergi ke taman memetik melati,
Harumnya lembut menusuk kalbu.
Allah melawat dengan kasih sejati,
Mengganti dukacita menjadi syahdu.