Allah Memberikan Damai Sejahtera

Khotbah Untuk : 25 Jan 2026
🏷Khotbah 3 Setelah Epipanias
Nats: Hagai 2:1b–10
👁 87x dibaca
belum ada rating

I. Pembukaan: Damai yang Dirindukan, Damai yang Dijanjikan

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, pernahkah kita bekerja keras namun tetap merasa kosong? Gedung berdiri, rutinitas berjalan, tetapi hati tidak tenang. Itulah yang dialami umat Israel sepulang dari pembuangan. Bait Allah mulai dibangun, namun jauh dari kemegahan masa Salomo. Lalu Tuhan bertanya secara implisit: “Apakah engkau membangun hanya dengan kekuatanmu, atau dengan kehadiran-Ku?”

Epiphanias mengingatkan kita: Allah menyatakan diri-Nya, bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dialami—terutama melalui damai sejahtera-Nya.


II. Latar Belakang Teks

Kitab Hagai ditulis sekitar tahun 520 SM. Umat Allah telah kembali dari pembuangan Babel, namun hidup dalam kekecewaan, kemiskinan, dan kelelahan rohani. Bait Allah yang lama telah hancur, dan yang baru tampak tidak sebanding. Di tengah situasi itu, Allah berbicara—bukan dengan kemarahan, melainkan penghiburan dan janji damai.


III. Kerangka Khotbah

I. Allah Hadir di Tengah Kekecewaan Umat-Nya (Hagai 2:1b–5)

Transisi: Dari air mata masa lalu, Tuhan mengarahkan umat-Nya kepada kehadiran-Nya saat ini.

  • “Kuatkanlah hatimu” (ay.4) – kata Ibrani chazaq berarti diteguhkan secara aktif oleh Allah. Damai sejahtera bukan hasil keadaan ideal, melainkan hasil kehadiran Allah.
  • Perjanjian yang tetap berlaku (ay.5) – Allah setia pada firman-Nya, meski umat berubah. Damai sejati lahir dari kesetiaan Allah, bukan kesempurnaan manusia.
  • Roh-Ku tinggal di tengah-tengahmu – kehadiran Roh menjadi sumber damai, bukan bangunan fisik semata.

Ayat paralel: Yesaya 41:10 – Allah menyertai dan meneguhkan umat-Nya.

Aplikasi:
Bagi pegawai yang lelah, pedagang yang cemas, pemuda yang gelisah, dan orang tua yang khawatir: damai Allah tidak menunggu hidupmu rapi—Ia hadir di tengah kekacauanmu.


II. Allah Mengguncang Dunia untuk Menghadirkan Damai-Nya (Hagai 2:6–7)

Transisi: Dari kehadiran Allah yang menenangkan, kita melihat karya Allah yang mengguncang.

  • “Menggoncangkan langit dan bumi” – tindakan eskatologis Allah, menggoyahkan yang fana demi menghadirkan yang kekal.
  • Segala yang indah akan datang – menunjuk pada penggenapan Mesianik, Kristus sebagai sumber damai sejati.
  • Damai lahir dari pemurnian – guncangan bukan hukuman semata, tetapi jalan menuju pemulihan.

Ayat paralel: Ibrani 12:26–28 – kerajaan yang tak tergoncangkan.

Ilustrasi:
Seperti emas dimurnikan oleh api, demikian juga damai Allah sering lahir setelah guncangan hidup.


III. Allah Menjanjikan Damai yang Melampaui Kemuliaan Lama (Hagai 2:8–10)

Transisi: Dari guncangan menuju janji kemuliaan yang baru.

  • “Kepunyaan-Ku perak dan emas” – damai Allah tidak bergantung pada sumber daya manusia.
  • “Kemuliaan yang kemudian lebih besar” – menunjuk pada Kristus, Sang Immanuel, Raja Damai.
  • “Di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera” – kata Ibrani shalom: keutuhan, pemulihan, harmoni total.

Ayat paralel: Yohanes 14:27 – Damai Kristus yang berbeda dari dunia.

Aplikasi:
Damai Allah bukan nostalgia masa lalu, melainkan pengharapan masa depan yang bekerja hari ini.


IV. Penutup: Merespons Damai Allah

Saudara-saudari, Allah tidak hanya membangun bait, Ia membangun hati. Ia tidak hanya memberi janji, Ia memberikan damai. Mari kita hidup sebagai umat Epiphanias— yang melihat terang Allah dan berjalan dalam damai-Nya.

Seruan: Serahkan kegelisahanmu hari ini, dan terimalah damai yang Allah sediakan.

Pantun Penutup:
Pergi ke ladang menanam padi,
Pulang ke rumah membawa bahagia.
Bila Tuhan hadir di dalam hati,
Damai sejahtera nyata selamanya.