Allah Memberikan Damai Sejahtera

Khotbah Untuk : 25 Jan 2026
🏷Bacaan 3 Setelah Epipanias
Nats: Roma 15:7–13
👁 27x dibaca
belum ada rating

I. Pembukaan: Damai yang Dicari, Damai yang Dibagikan

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, setiap manusia merindukan damai sejahtera. Namun ironisnya, justru di tengah relasi—keluarga, gereja, tempat kerja— kita sering kehilangan damai itu. Perbedaan karakter, latar belakang, pendapat, bahkan iman, sering menjadi sumber konflik dan luka.

Pertanyaannya: Apakah damai sejahtera itu sekadar perasaan tenang, atau sebuah panggilan iman yang harus dihidupi?

Dalam Minggu Epiphanias, kita diingatkan bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui Kristus sebagai sumber terang bagi segala bangsa. Dan di dalam terang itulah, Rasul Paulus mengajarkan bahwa damai sejahtera Allah bukan hanya diterima, tetapi juga dihidupi dan dibagikan.


II. Latar Belakang Teks Roma 15:7–13

Surat Paulus kepada jemaat di Roma ditulis dalam konteks ketegangan antara orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi. Perbedaan tradisi, hukum Taurat, dan kebiasaan budaya mengancam kesatuan jemaat. Paulus tidak menyelesaikan masalah ini dengan kompromi teologis, melainkan dengan Injil Kristus.

Roma 15:7–13 menjadi puncak pastoral Paulus: bagaimana Injil menghasilkan komunitas yang dipenuhi damai sejahtera, pengharapan, dan sukacita oleh kuasa Roh Kudus.


III. Kerangka Khotbah

I. Damai Sejahtera Dimulai dari Sikap Menerima (Roma 15:7)

Transisi: Dari konflik relasi, Paulus membawa kita pada sikap Injil.

  • “Terimalah satu akan yang lain” – kata Yunani proslambanō berarti menerima dengan tangan terbuka, bukan sekadar mentoleransi. Damai Allah dimulai ketika kita membuka ruang bagi sesama.
  • “Sama seperti Kristus telah menerima kamu” – dasar penerimaan bukan kesamaan, melainkan kasih karunia. Kristus menerima kita saat kita belum layak.
  • “Untuk kemuliaan Allah” – penerimaan antar umat bukan demi kenyamanan sosial, tetapi kesaksian Injil.

Ayat paralel: Kolose 3:13 – Saling mengampuni sebagaimana Kristus mengampuni.

Aplikasi:
Bagi pegawai yang bekerja dengan rekan sulit, bagi pedagang yang dikhianati, bagi pemuda yang merasa tidak diterima, dan bagi orang tua yang terluka oleh anaknya: damai Allah dimulai dari hati yang mau menerima, sebagaimana Kristus telah menerima kita.


II. Damai Sejahtera Bertumbuh dalam Pengharapan Injil (Roma 15:8–12)

Transisi: Dari penerimaan pribadi, Paulus memperluas visi kepada rencana Allah bagi bangsa-bangsa.

  • Kristus sebagai hamba – Yesus datang untuk menepati janji Allah kepada Israel, menunjukkan kesetiaan Allah.
  • Bangsa-bangsa memuliakan Allah – kutipan Mazmur dan nabi menunjukkan bahwa damai Allah bersifat universal.
  • Akar Isai – menunjuk kepada Mesias, Raja yang membawa pengharapan dan damai sejati.

Ayat paralel: Yesaya 11:10 – Mesias menjadi pengharapan bangsa-bangsa.

Ilustrasi:
Seperti pelangi yang indah justru karena banyak warna, demikian pula gereja menjadi indah ketika hidup dalam damai di tengah perbedaan.


III. Damai Sejahtera Digenapi oleh Kuasa Roh Kudus (Roma 15:13)

Transisi: Dari karya Kristus di masa lalu, Paulus menutup dengan doa bagi kehidupan jemaat hari ini.

  • Allah sumber pengharapan – damai sejati tidak lahir dari situasi, melainkan dari Allah sendiri.
  • Sukacita dan damai dalam iman – damai adalah buah dari kepercayaan kepada Allah, bukan hasil kontrol manusia.
  • Melimpah oleh kuasa Roh Kudus – Roh Kudus memampukan umat hidup dalam damai yang aktif dan berdampak.

Ayat paralel: Galatia 5:22 – Damai sebagai buah Roh.

Aplikasi:
Damai Allah bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk dibawa ke rumah, kantor, pasar, dan masyarakat.


IV. Penutup: Hidup sebagai Pembawa Damai

Saudara-saudari, Allah tidak hanya memberi kita damai sejahtera, Ia memanggil kita menjadi alat damai itu. Di Minggu Epiphanias ini, biarlah terang Kristus dinyatakan melalui hidup yang penuh penerimaan, pengharapan, dan damai oleh Roh Kudus.

Seruan: Mari kita membuka hati, menerima sesama, dan hidup sebagai pembawa damai Allah.

Pantun Penutup:
Pergi ke taman memetik melati,
Putih bersih harum baunya.
Bila Kristus damai di dalam hati,
Dunia pun merasakan kasih-Nya.