Berjalan Dalam Terang Tuhan
Pembukaan:
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, pernahkah kita berjalan di tempat gelap tanpa penerangan? Betapa hati-hati, bahkan takut, karena kita tidak tahu apa yang ada di depan. Demikianlah hidup manusia tanpa terang Tuhan—kita mudah tersesat oleh dosa, dan kehilangan arah rohani. Advent mengingatkan kita: Sang Terang itu datang, dan Ia mengundang kita untuk berjalan di dalam terang-Nya. Mari kita renungkan, bagaimana Yesaya memanggil umat Tuhan untuk keluar dari kegelapan menuju terang yang sejati.
Pertanyaan retoris: Apakah kita hari ini sungguh-sungguh berjalan dalam terang Tuhan, atau hanya sekadar tahu tentang terang itu tanpa hidup di dalamnya?
Latar Belakang Teks:
Kitab Yesaya dimulai dengan penglihatan nabi Yesaya tentang Yehuda dan Yerusalem pada masa raja Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia. Umat Tuhan kala itu hidup dalam kemakmuran tetapi terjerat dalam dosa, penyembahan berhala, dan ketidakadilan sosial. Yesaya menegur keras bangsa itu karena mereka telah meninggalkan Tuhan, sumber terang dan kebenaran. Yesaya 1:1-5 adalah seruan awal yang menggambarkan kondisi rohani umat yang rusak — mereka mengenal Tuhan, tetapi tidak hidup di dalam kehendak-Nya.
Poin 1: Menyadari Kondisi Kegelapan Rohani (Yesaya 1:2-3)
“Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab Tuhan berfirman...”
- a. Seruan Allah kepada langit dan bumi — Menunjukkan keseriusan dosa umat. Alam dijadikan saksi karena umat telah memberontak terhadap Tuhan. Dalam bahasa Ibrani, kata “bagad” berarti pengkhianatan yang disengaja.
- b. Dosa membuat umat tidak mengenal Allah — Seperti lembu dan keledai mengenal tuannya, tetapi umat tidak mengenal Pencipta mereka. Ini ironi rohani.
- c. Kondisi spiritual yang membutakan hati — Terang Tuhan masih ada, tetapi hati yang keras menolak melihatnya.
Ayat paralel: Yohanes 3:19 – “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang.”
Transisi: Setelah menyadari kegelapan rohani, Yesaya mengajak umat untuk melihat sumber terang yang sejati, yaitu Tuhan sendiri.
Poin 2: Panggilan untuk Kembali kepada Terang Tuhan (Yesaya 1:4)
“Celakalah bangsa yang berdosa, umat yang sarat dengan kejahatan...”
- a. Dosa bukan sekadar pelanggaran moral, tetapi pemberontakan spiritual — Kata Ibrani “ḥāṭā’” berarti meleset dari sasaran; hidup di luar kehendak Allah.
- b. Tuhan tidak menyerah terhadap umat-Nya — Meskipun umat menolak, kasih Tuhan tetap memanggil untuk kembali.
- c. Terang Tuhan menyingkapkan dan memulihkan — Tuhan tidak ingin menghukum, tetapi menyucikan umat agar kembali hidup benar.
Ayat paralel: Mazmur 27:1 – “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku; kepada siapakah aku takut?”
Transisi: Bila kita mau kembali kepada terang Tuhan, maka langkah selanjutnya adalah hidup di dalam terang itu setiap hari.
Poin 3: Hidup di Dalam Terang Tuhan (Yesaya 1:5)
“Mengapakah kamu masih mau dipukul lagi, kamu yang bertambah murtad?”
- a. Hidup dalam terang berarti pertobatan nyata — Tidak lagi keras kepala terhadap teguran Tuhan.
- b. Terang Tuhan mengubahkan karakter dan perilaku — Hidup yang tadinya rusak, dipulihkan menjadi cerminan kasih Kristus.
- c. Terang Tuhan memampukan kita menjadi saksi di tengah dunia gelap — Baik di kantor, pasar, rumah, maupun kampus, kita membawa cahaya harapan Kristus.
Ayat paralel: Efesus 5:8 – “Dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan; hiduplah sebagai anak-anak terang.”
Penutup:
Saudara, Advent adalah waktu menyiapkan hati bagi kedatangan Sang Terang. Jangan biarkan dosa menutupi sinar kasih Tuhan. Mari buka hati, bertobat, dan berjalan dalam terang-Nya setiap hari. Terang Tuhan bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dijalani—agar dunia melihat Kristus melalui hidup kita.
Seruan respons jemaat: “Tuhan, terangilah hidupku agar aku berjalan seturut kehendak-Mu!”
Pantun penutup:
Berjalan malam tanpa lentera,
Langkah tersandung di jalan berlumpur;
Mari berjalan dalam terang-Nya,
Agar hidup memancarkan kasih yang luhur.