Bertobatlah, Kerajaan Allah Sudah Dekat

Khotbah Untuk : 07 Dec 2025
🏷Bacaan Advent II
Nats: Mazmur 72:1–19
👁 103x dibaca
belum ada rating

Pembukaan (Ice Breaker)

Pernahkah saudara melihat seseorang sedang membersihkan rumah menjelang tamu kehormatan datang? Biasanya semuanya berubah: lantai disapu, meja dirapikan, bahkan bau ruangan pun dibuat harum. Pertanyaannya adalah: Jika kita begitu sibuk menyiapkan rumah bagi tamu manusia, bagaimana dengan “rumah hati” kita ketika Sang Raja Damai hendak datang?

Mazmur 72 adalah doa untuk seorang raja—tetapi juga nubuat tentang Raja Mesias. Dan Advent adalah masa menyambut kedatangan-Nya. Karena itu tema hari ini sangat tepat: “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat.”

Latar Belakang Teks

Mazmur 72 adalah mazmur kerajaan yang dinisbatkan kepada Salomo, namun sepanjang sejarah gereja dipahami sebagai gambaran Mesias ideal: Raja yang adil, memerintah dengan damai, dan menghadirkan berkat bagi bangsa-bangsa. Bahasa mazmur ini melampaui kemampuan raja manusia mana pun—hanya dapat digenapi penuh dalam Kristus. Ketika Kristus datang membawa Kerajaan-Nya, respons yang benar adalah pertobatan: perubahan arah hidup untuk tunduk kepada Sang Raja sejati.


Poin 1: Bertobatlah, Karena Kerajaan Allah Ditandai dengan Keadilan Sang Raja (ay. 1–7)

Transisi: Mazmur dibuka bukan dengan kekuatan manusia, melainkan permohonan akan keadilan Allah.

Ayat 1 menyebut, “Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja.” Kata “hukum” di sini memakai istilah Ibrani mishpat—keadilan yang sesuai karakter Allah. Artinya, ketika Kerajaan Allah dekat, standar moral-Nya berlaku dalam hidup umat-Nya.

Sub-poin:

  1. Pertobatan berarti kembali kepada standar keadilan Allah. Bukan keadilan versi dunia, tetapi keadilan ilahi yang menuntut ketulusan, kejujuran, dan kasih. Baik PNS, karyawan, pedagang, maupun pemuda—hidup kita dipanggil tunduk pada mishpat ini.
  2. Pertobatan membawa pemulihan bagi mereka yang tertindas. Ayat 4 menyatakan Sang Raja “membela orang-orang kecil.” Pertobatan sejati selalu berdampak sosial—kita menjadi berkat, bukan beban.
  3. Pertobatan membuka pintu damai sejahtera. Ayat 7 menggambarkan “kelimpahan damai sejahtera” (shalom). Shalom bukan sekadar tenang, tetapi keutuhan hidup. Ini hanya dialami orang yang kembali kepada Allah.

Ayat Paralel:

  • Yesaya 9:6–7 — Mesias adalah Raja damai yang pemerintahannya penuh keadilan.
  • Matius 6:33 — Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.

Poin 2: Bertobatlah, Karena Masa Pemerintahan Sang Raja Menjangkau Bangsa-Bangsa (ay. 8–14)

Transisi: Setelah menggambarkan karakter Raja, mazmur menunjukkan luasnya Kerajaan-Nya.

Ayat 8 menegaskan bahwa kerajaan Mesias meliputi “dari laut ke laut”—sebuah ungkapan Ibrani untuk pemerintahan universal. Ketika Kristus datang, Ia bukan hanya Raja Israel, tetapi Raja segala bangsa. Maka pertobatan menjadi panggilan global.

Sub-poin:

  1. Pertobatan mengakui otoritas Kristus atas seluruh hidup. Tidak ada area “privat” yang tidak tunduk kepada-Nya: pekerjaan, keluarga, keuangan, relasi, dan impian.
  2. Pertobatan membawa kita masuk dalam misi Kerajaan. Ayat 11 berkata “semua raja sujud menyembah Dia.” Kerajaan Allah bergerak, dan gereja dipanggil menjadi saksi. Para pedagang melalui integritas, PNS melalui pelayanan bersih, orang tua melalui teladan, pemuda melalui kekudusan.
  3. Pertobatan membuat kita peka kepada yang menderita. Ayat 12–14 menggambarkan Raja yang menolong orang miskin, tertindas, dan tak berdaya. Kita yang telah dipulihkan dipanggil memulihkan.

Ayat Paralel:

  • Matius 28:18–20 — Kristus memiliki segala kuasa dan mengutus kita.
  • Filipi 2:10–11 — Segala lutut bertelut di hadapan Yesus.

Poin 3: Bertobatlah, Karena Kerajaan Allah Membawa Berkat Kekal (ay. 15–19)

Transisi: Dari keadilan dan luasnya Kerajaan, mazmur ditutup dengan berkat dan kemuliaan bagi Allah.

Ayat 17 menyatakan, “namanya akan tetap selama-lamanya”—istilah Ibrani shem merujuk pada identitas dan keagungan yang kekal. Kerajaan Allah membawa berkat yang tidak pudar, tetapi abadi.

Sub-poin:

  1. Bertobat berarti menaruh harapan pada Kerajaan yang kekal. Dunia berubah, tetapi Kerajaan Allah tetap. Orang yang bertobat tidak berpegang pada kestabilan dunia, melainkan pada Kristus.
  2. Kerajaan Allah membawa kelimpahan berkat bagi bangsa-bangsa. Ayat 17–18 menegaskan bahwa semua bangsa akan diberkati melalui Raja ini—mengingatkan janji kepada Abraham.
  3. Pertobatan memuliakan Allah. Ayat 19 adalah doksologi indah: “Terpujilah TUHAN Allah Israel.” Pertobatan bukan hanya perubahan moral, tetapi tindakan memuliakan Allah.

Ayat Paralel:

  • Wahyu 11:15 — Kerajaan dunia menjadi milik Kristus.
  • Efesus 1:3 — Dalam Kristus kita diberkati dengan segala berkat rohani.

Penutup

Mazmur 72 mengarahkan mata kita kepada Sang Raja Mesias—Raja yang adil, universal, dan kekal. Jika kerajaan seperti ini sudah dekat, bahkan telah hadir dalam Kristus, maka respons kita hanya satu: bertobat dan menyambut-Nya.

Seruan Respons Jemaat

“Tuhan, ubahlah hati kami, luruskan jalan kami, dan jadikan kami umat yang siap menyambut pemerintahan-Mu.”

Pantun Penutup

Pergi ke ladang membawa padi,
Disisir angin lembut sekali.
Bertobatlah, sambut Sang Raja abadi,
Agar hati bersih saat Ia kembali.