Dari Kepenuhan-Nya Kita Menerima Kasih Karunia
Pendahuluan (Pembukaan Khotbah)
Ice breaker: Pernahkah kita merasa “kosong” meski hidup terlihat penuh? Penuh aktivitas, penuh target, penuh ambisi—namun hati tetap hampa. Dunia menawarkan banyak hal, tetapi sedikit yang benar-benar memuaskan jiwa.
Pertanyaan retoris: Jika dunia ini diciptakan oleh Allah, mengapa dunia sering gagal mengenal Dia? Dan jika Allah datang begitu dekat dalam Yesus Kristus, mengapa banyak orang justru menolak-Nya?
Injil Yohanes dibuka dengan prolog yang agung: Firman yang kekal, ilahi, dan kreatif. Yohanes 1:10–17 membawa kita dari tragedi penolakan manusia kepada klimaks anugerah Allah. Tema kita hari ini: “Dari Kepenuhan-Nya Kita Menerima Kasih Karunia.” Tema ini menegaskan bahwa sumber hidup sejati bukan dari dunia, melainkan dari kepenuhan Kristus.
Latar Belakang Teks
Injil Yohanes ditulis untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah, supaya setiap orang yang percaya memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yoh. 20:31). Pasal 1 merupakan fondasi kristologi Yohanes. Istilah “Firman” berasal dari bahasa Yunani Logos, yang bermakna rasio ilahi, wahyu Allah yang hidup dan aktif. Dalam konteks Yahudi dan Helenistik, Logos adalah jembatan antara Allah dan ciptaan. Yohanes menegaskan bahwa Logos itu bukan konsep, melainkan Pribadi—Yesus Kristus.
Poin I: Dunia yang Diciptakan Tidak Mengenal Sang Pencipta (ay. 10–11)
Transisi: Dari keagungan penciptaan, Yohanes membawa kita pada realitas yang menyakitkan: penolakan manusia terhadap Kristus.
Subpoin 1: “Ia telah ada di dalam dunia”
Yesus hadir nyata dalam sejarah. Dunia (kosmos) yang diciptakan melalui Dia justru gagal mengenal-Nya. Kosmos di sini bukan hanya bumi, tetapi sistem manusia yang jatuh dalam dosa.
Subpoin 2: “Dunia tidak mengenal-Nya”
Kata “mengenal” berasal dari ginosko, menunjuk pada relasi yang intim. Masalah dunia bukan kekurangan informasi, melainkan kebutaan rohani.
Subpoin 3: “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya”
Ini menunjuk kepada Israel. Mereka memiliki Taurat, nabi-nabi, dan janji, tetapi menolak Mesias. Penolakan ini menunjukkan kedalaman dosa manusia.
Ayat paralel: Yesaya 53:3 – “Ia dihina dan dihindari orang.” Ayat ini menegaskan nubuat tentang penolakan Mesias.
Aplikasi:
Pegawai dan karyawan: kesibukan bisa membuat kita asing terhadap Tuhan.
Pedagang: keuntungan bisa menutup kepekaan rohani.
Pemuda: budaya populer dapat menggantikan Kristus.
Orang tua: tradisi iman tanpa relasi pribadi bisa kosong.
Ilustrasi: Seperti pemilik rumah yang tidak dikenali oleh penghuninya sendiri, demikianlah Kristus ditolak oleh dunia yang Ia ciptakan.
Poin II: Kuasa Anugerah Mengangkat Manusia Menjadi Anak Allah (ay. 12–13)
Transisi: Dari penolakan yang gelap, Yohanes memperlihatkan terang pengharapan.
Subpoin 1: “Semua orang yang menerima-Nya”
Menerima berarti menyambut dengan iman aktif. Iman bukan sekadar persetujuan intelektual, melainkan penyerahan diri.
Subpoin 2: “Diberi-Nya kuasa menjadi anak-anak Allah”
Kata “kuasa” berasal dari exousia, berarti hak istimewa yang sah. Status anak Allah bukan hasil usaha, melainkan pemberian anugerah.
Subpoin 3: “Bukan dari darah atau daging”
Kelahiran baru bersifat ilahi. Keselamatan bukan warisan keluarga atau prestasi moral.
Ayat paralel: Roma 8:15 – Kita menerima Roh yang menjadikan kita anak, oleh-Nya kita berseru: “Abba, Bapa.”
Aplikasi:
Pegawai: bekerja bukan untuk identitas, karena identitas sudah aman dalam Kristus.
Pemuda: nilai diri tidak ditentukan media sosial, melainkan status sebagai anak Allah.
Orang tua: wariskan iman, bukan hanya nama keluarga.
Ilustrasi: Seorang anak adopsi menerima nama dan hak penuh bukan karena jasanya, tetapi karena kasih orang tua.
Poin III: Kepenuhan Kristus Melimpahkan Kasih Karunia dan Kebenaran (ay. 14–17)
Transisi: Setelah menerima status anak, kita diajak menikmati sumber hidup itu sendiri: kepenuhan Kristus.
Subpoin 1: “Firman itu telah menjadi manusia”
Kata sarx (daging) menegaskan inkarnasi sejati. Allah masuk ke dalam realitas manusia, bukan secara semu.
Subpoin 2: “Penuh kasih karunia dan kebenaran”
Charis (kasih karunia) adalah pemberian cuma-cuma; aletheia (kebenaran) adalah realitas Allah yang sejati. Dalam Kristus, kasih dan kebenaran tidak terpisah.
Subpoin 3: “Kasih karunia demi kasih karunia”
Ini menggambarkan anugerah yang terus mengalir, seperti ombak yang tidak pernah habis.
Ayat paralel: 2 Korintus 8:9 – “Ia yang kaya menjadi miskin supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”
Aplikasi:
Semua jemaat: hidup bukan dari kekuatan sendiri, tetapi dari kepenuhan Kristus setiap hari.
Ilustrasi: Seperti mata air pegunungan yang terus mengalir, demikian kasih karunia Kristus tidak pernah kering.
Penutup (Seruan & Respons Jemaat)
Saudara-saudari, dunia boleh menolak, tetapi anugerah Allah tetap tersedia. Dari kepenuhan Kristus, kita menerima hidup, identitas, dan pengharapan. Marilah kita datang dengan iman, hidup dalam anugerah, dan menjadi saksi di tengah dunia.
Seruan: Mari tinggalkan kekosongan dunia dan datang kepada kepenuhan Kristus!
Pantun Penutup:
Ke pasar pagi membeli delima,
Tak lupa singgah membeli roti.
Dari kepenuhan kasih-Nya kita terima,
Kasih karunia yang menghidupi.