Diberkati Supaya Menjadi Berkat

Khotbah Untuk : 08 Feb 2026
🏷Khotbah Sexagesima
Nats: Kejadian 12:1–5
👁 17x dibaca
belum ada rating

Saudara, jika hari ini Tuhan berkata kepada kita, “Tinggalkan zona nyamanmu, masa depanmu tidak akan Aku jelaskan secara rinci, tetapi Aku menjanjikan penyertaan-Ku,” apakah kita siap melangkah?

Pertanyaan retoris: Apakah berkat Tuhan hanya untuk dinikmati, atau untuk dibagikan?

Minggu Sexagesima mengingatkan kita bahwa hidup iman bukanlah soal kecepatan, tetapi kesetiaan dalam ketaatan. Kejadian 12:1–5 menandai titik balik besar dalam sejarah penebusan: Allah memanggil Abram, bukan hanya untuk diberkati, tetapi untuk menjadi saluran berkat bagi segala bangsa.


LATAR BELAKANG TEKS

Abram hidup di Ur-Kasdim dan Haran, pusat peradaban maju tetapi sarat penyembahan berhala. Panggilan Allah datang tanpa peta, tanpa kepastian visual, hanya janji firman. Secara teologis, ini adalah awal dari perjanjian Abrahamik, fondasi bagi karya keselamatan Allah yang mencapai puncaknya di dalam Kristus.


I. PANGGILAN ALLAH SELALU MENUNTUT KETAATAN RADIKAL (ay. 1)

“Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu...” Kata Ibrani “lekh lekha” berarti “pergilah demi dirimu sendiri” – sebuah panggilan yang mengandung pemisahan total.

  • Iman dimulai dengan meninggalkan yang lama
    Abram harus meninggalkan keamanan, identitas lama, dan kenyamanan budaya. Iman sejati selalu menuntut pelepasan.
  • Ketaatan mendahului kejelasan
    Tuhan tidak menjelaskan “ke mana”, hanya “Aku akan menunjukkan”. Iman bukan soal melihat, tetapi percaya.
  • Panggilan Allah bersifat personal dan progresif
    Allah memanggil Abram secara pribadi, namun dampaknya berskala global.

Ayat paralel: Ibrani 11:8 – Abram taat berangkat tanpa mengetahui tempat yang ditujunya.

Transisi: Ketaatan Abram membuka pintu bagi janji Allah yang lebih besar.


II. BERKAT ALLAH SELALU MEMILIKI TUJUAN PENEBUSAN (ay. 2–3)

Allah berjanji: membuat Abram menjadi bangsa besar, memberkati namanya, dan menjadikannya berkat. Kata “berkat” (barak) berarti kehidupan yang mengalir dari Allah.

  • Berkat bersumber dari Allah, bukan usaha manusia
    Abram mandul, Sarai tidak beranak—tetapi Allah sanggup mencipta masa depan dari ketidakmungkinan.
  • Berkat bukan tujuan akhir, melainkan sarana
    “Engkau akan menjadi berkat” – berkat tidak berhenti pada Abram.
  • Dimensi misi global
    “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” – ini menunjuk pada Kristus (Galatia 3:8).

Ayat paralel: Matius 28:19 – Amanat Agung sebagai kelanjutan janji Abraham.

Transisi: Janji Allah menuntut respons nyata dalam kehidupan sehari-hari.


III. IMAN SEJATI DINYATAKAN DALAM LANGKAH NYATA (ay. 4–5)

Ayat 4 dimulai dengan kalimat sederhana namun kuat: “Lalu pergilah Abram...” Inilah iman yang bekerja.

  • Iman selalu bergerak
    Abram tidak menunda. Iman tanpa perbuatan adalah mati.
  • Iman mempengaruhi seluruh rumah tangga
    Lot, Sarai, dan seluruh harta ikut berjalan. Iman sejati berdampak komunal.
  • Iman bertumbuh dalam proses
    Perjalanan Abram penuh tantangan, tetapi Allah setia.

Ayat paralel: Yakobus 2:17 – Iman tanpa perbuatan adalah mati.


APLIKASI PRAKTIS

  • Pegawai/Karyawan: Jadilah berkat melalui integritas dan etos kerja.
  • Pedagang: Berkat Tuhan nyata melalui kejujuran dan keadilan.
  • Pemuda: Ikuti panggilan Tuhan meski masa depan belum jelas.
  • Orang Tua: Wariskan iman, bukan hanya harta.

Ilustrasi: Seperti sungai yang mengalir, air yang berhenti akan menjadi keruh. Berkat Tuhan yang tidak dibagikan akan kehilangan maknanya.


PENUTUP

Saudara, kita diberkati bukan supaya menimbun, tetapi supaya mengalir. Dalam Kristus, kita adalah anak-anak Abraham, dipanggil untuk menjadi berkat bagi dunia yang terluka.

Seruan: Mari kita melangkah dalam ketaatan, hidup dalam iman, dan mengalirkan berkat Tuhan.

Pergi melangkah tanpa peta di tangan,
Namun janji Tuhan jadi pegangan.
Diberkati bukan untuk disimpan,
Melainkan dibagi, jadi berkat bagi sesama insan.