Imanuel: Allah Menyertai Kita
I. Pembukaan (Ice breaker + Pertanyaan retoris)
Seorang ayah pernah berkata, “Saya tidak takut menghadapi perjalanan sulit, asalkan saya tidak sendirian.” Ada sesuatu dalam diri manusia yang berubah ketika ada seseorang berjalan bersama kita.
Dalam kehidupan, kita sering bertanya: “Apakah Tuhan benar-benar menyertai saya?” Saat pekerjaan sulit, saat pernikahan diuji, saat kesehatan goyah, saat hati kosong—kita ingin tahu: “Di mana Tuhan?”
Injil Matius membuka kisah kelahiran Yesus dengan sebuah deklarasi yang mengubah dunia: “Ia akan disebut Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita.” (Mat. 1:23)
Tema hari ini: “Imanuel: Allah Menyertai Kita.” Sebuah kebenaran sederhana, namun dalamnya tak terukur.
Poin 1 — Allah Menyertai Kita dalam Kacau-balaunya Hidup (ay.18–19)
Latar belakang:
- Maria bertunangan dengan Yusuf—status sah secara hukum Yahudi.
- Tiba-tiba Maria mengandung sebelum mereka bersatu sebagai suami-istri.
- Dari perspektif dunia, ini kekacauan besar: reputasi, masa depan, dan pernikahan mereka berada di ambang kehancuran.
1. Penyertaan Allah tidak hadir dalam situasi ideal (ay.18)
- Kelihatannya semua serba salah, tetapi justru Allah bekerja di dalam kekacauan itu.
- Begitu pula hidup kita: Allah tidak menunggu semua rapi untuk hadir.
- Bagi PNS yang berada dalam tekanan, bagi pedagang yang merugi, bagi pemuda yang cemas masa depannya—Allah hadir dalam kekacauan itu.
2. Allah hadir menyertai dalam kebingungan Yusuf (ay.19)
- Yusuf “seorang yang tulus hati”—Yunani: dikaios, artinya benar dan penuh integritas.
- Ia ingin bertindak benar tanpa melukai Maria.
- Ketika manusia bingung, Allah tidak diam.
3. Ketidakpastian bukan tanda Allah meninggalkan kita
- Justru sering, Allah memulai karya terbesar-Nya dari situasi tersembunyi yang tampak kacau.
- Ilustrasi: seperti benih yang tumbuh di dalam tanah gelap, diam, dan tidak terlihat—Allah bekerja dalam kegelapan hidup kita.
Ayat paralel:
- Yesaya 43:2 — “Apabila engkau berjalan melalui air, Aku menyertai engkau.”
- Mazmur 34:18 — Tuhan dekat kepada orang yang patah hati.
Transisi: Allah hadir di dalam kekacauan, tetapi Ia tidak berhenti di situ. Ia kemudian menyatakan rencana-Nya.
Poin 2 — Allah Menyertai Kita dengan Menyatakan Rencana-Nya (ay.20–23)
1. Allah berbicara di tengah ketakutan (ay.20)
- Yusuf ingin meninggalkan Maria, tetapi Tuhan berkata: “Jangan takut.”
- Dalam Alkitab, penyertaan Allah selalu diawali dengan: “Jangan takut.”
- Di balik ketakutan ada kepastian penyertaan Allah.
2. Allah menyingkapkan karya Roh Kudus (ay.20)
- Kandungan Maria adalah karya Roh Kudus — pneuma hagion.
- Artinya: apa yang tampak sebagai masalah sebenarnya adalah mujizat yang sedang tumbuh.
- Beberapa masalah dalam hidup kita, jika dilihat dengan mata rohani, sedang membentuk sesuatu yang dari Tuhan.
3. Allah menggenapi nubuat Imanuel (ay.22–23)
Nama “Imanuel” berasal dari Ibrani: ‘immānû ‘ēl — ‘immānû = “bersama kita”, — ‘ēl = “Allah”.
- Ini bukan sekadar nama, tetapi identitas Yesus.
- Penyertaan Allah bukan konsep teologi—itu menjadi daging dalam diri Kristus.
- Imanuel adalah jawaban atas kerinduan terdalam manusia: kita tidak sendirian.
Ayat paralel:
- Yesaya 7:14 — nubuat kelahiran Imanuel.
- Ibrani 13:5 — “Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
Transisi: Jika Allah menyertai dengan menyatakan rencana-Nya, Ia juga menyertai kita dalam ketaatan sehari-hari.
Poin 3 — Allah Menyertai Kita untuk Menguatkan Ketaatan Kita (ay.24–25)
1. Penyertaan Allah memampukan Yusuf taat (ay.24)
- Yusuf “melakukan seperti yang dikatakan Tuhan kepadanya”.
- Ketaatan bukan karena ia mengerti segalanya, tetapi karena ia percaya penyertaan Allah.
- Banyak dari kita ingin mengerti terlebih dulu baru taat. Yusuf taat dulu, lalu mengerti kemudian.
2. Penyertaan Allah memberi kekuatan moral (ay.25)
- Yusuf menjaga kekudusan sampai kelahiran Yesus.
- Dalam zaman yang penuh kompromi, penyertaan Allah memberi kekuatan untuk berkata “tidak” kepada dosa dan “ya” kepada kehendak Tuhan.
3. Penyertaan Allah membentuk masa depan keselamatan (ay.21,25)
- Nama “Yesus” — Yunani: Iēsous, dari Ibrani: Yehoshua, artinya: “Tuhan menyelamatkan.”
- Penyertaan Allah tidak hanya untuk kenyamanan kita, tetapi untuk tujuan keselamatan dunia.
- Ketika kita taat, penyertaan Allah menjadikan hidup kita bagian dari karya besar-Nya.
Ayat paralel:
- Filipi 2:13 — Allah yang mengerjakan kemauan dan pekerjaan.
- Mazmur 23:4 — “Engkau besertaku; gadamu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”
Penutup Khotbah
Saudara, Imanuel bukan hanya nama yang indah. Itu adalah janji yang mengubah kehidupan.
Dalam kekacauan—Ia menyertai. Dalam kebingungan—Ia berbicara. Dalam ketaatan—Ia menguatkan.
Seruan Respons Jemaat:
Mari berkata: “Tuhan Yesus Imanuel, dampingilah setiap langkahku. Hadirlah dalam rumah tanggaku, pekerjaanku, pikiranku, dan masa depanku. Engkaulah Allah yang menyertai kami.”
Penutup Puitis:
Ketika jalan gelap, Imanuel menjadi terang. Ketika hati gentar, Imanuel menjadi sandaran. Ketika langkah ragu, Imanuel menjadi penuntun. Allah menyertai kita—sekarang, besok, dan selamanya.
Pantun:
Embun pagi jatuh perlahan,
Menyapa bumi penuh makna.
Imanuel hadir dalam perjalanan,
Allah beserta di setiap langkah kita.