Imanuel: Allah Menyertai Kita
I. Pembukaan (Ice Breaker + Pertanyaan Retoris)
Pernahkah Saudara merasa hidup seperti pohon yang ditebang? Ada masa ketika kita kehilangan arah, kehilangan semangat, kehilangan harapan. Seorang karyawan bercerita: “Saya merasa seperti tidak ada masa depan. Tetapi justru di titik itu Tuhan memberikan jalan baru.” Dalam hidup, kita sering bertanya: “Apakah Tuhan masih menyertai saya ketika hidupku seperti tunggul?”
Umat Israel dalam Yesaya 11 sedang mengalami situasi seperti itu. Kerajaan Daud tampak runtuh — tidak ada kemuliaan, tidak ada kejayaan. Hanya tinggal tunggal (Ibrani: geza‘) yang tersisa. Namun Allah menyatakan sebuah kabar luar biasa: dari tunggul itu akan tumbuh tunas baru (Ibrani: ḥoter). Inilah janji bahwa Imanuel — Allah yang menyertai — akan datang.
Tema hari ini: “Imanuel: Allah Menyertai Kita.”
Poin 1 — Imanuel Hadir Saat Hidup Kita Seperti Tunggul (ay.1)
“Nya akan keluar tunas dari tunggul Isai.” Kata “tunggul” (Ibrani: geza‘) berarti batang yang dipotong, sesuatu yang tampak mati. Tetapi dari geza‘ itu muncul ḥoter — tunas hidup.
1. Allah menyertai dalam titik terendah
- Israel kehilangan identitas, kekuatan, dan kejayaan. Namun Allah bekerja dari sisa yang tersisa.
- Penyertaan Allah tidak selalu tampak megah; kadang hadir dalam “tunas kecil” yang hampir tidak terlihat.
- Bagi jemaat yang merasa hancur, kehilangan pekerjaan, hubungan retak—Allah sering memulai karya baru dari keadaan paling kecil.
2. Tunas itu menunjuk kepada Mesias (ay.1)
- Yesus lahir bukan dari istana, tetapi dari garis Daud yang tampak terputus.
- Imanuel tidak hadir dalam kemegahan duniawi, tetapi dalam kerendahan.
- Penyertaan Allah tidak selalu spektakuler, tetapi selalu sempurna.
3. Allah menghidupkan kembali apa yang kita anggap mati
- Dalam pernikahan yang terasa kering—Allah dapat menumbuhkan tunas baru.
- Dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan—di mana pun kita merasa “mati”, Tuhan berkata: “Aku hadir.”
- Yesaya 53:2 — Mesias tumbuh seperti tunas dari tanah kering.
- Matius 1:23 — Imanuel: Allah menyertai kita.
Transisi: Jika tunas itu menggambarkan kehadiran Mesias, maka ayat berikut menjelaskan bagaimana penyertaan Allah bekerja melalui Roh-Nya.
Poin 2 — Imanuel Menyertai Kita Melalui Roh-Nya (ay. 2)
“Akan ada Roh TUHAN yang hinggap padanya.” Kata “hinggap” (Ibrani: nāḥâ) berarti berdiam, menetap, bukan datang dan pergi.
1. Roh hikmat dan pengertian
- Hikmat (Ibrani: ḥokmāh) — kemampuan melihat segala sesuatu dari perspektif Allah.
- Pengertian (bīnāh) — kemampuan menafsirkan dan membedakan dengan tepat.
- Bagi pekerja yang mengambil keputusan penting, orang tua yang membimbing anak, pemuda yang memilih masa depan — Roh Allah menyertai dengan hikmat.
2. Roh nasihat dan keperkasaan
- Nasihat (‘ēṣāh) — kemampuan memberi arah yang benar.
- Keperkasaan (gĕbūrāh) — kekuatan untuk bertindak.
- Penyertaan Allah bukan hanya pengertian, tetapi juga keberanian menjalankan kehendak-Nya.
3. Roh pengenalan dan takut akan Tuhan
- Pengenalan akan Tuhan (da‘at) — relasi yang intim, bukan sekadar informasi.
- Takut akan Tuhan (yir’ah) — rasa hormat yang membentuk karakter.
- Hidup yang disertai Allah adalah hidup yang semakin mencintai Dia.
- Yohanes 14:16–17 — Roh Kudus menyertai kita selamanya.
- Yesaya 61:1 — Roh Tuhan ada pada Mesias.
Transisi: Penyertaan Roh bukan hanya untuk penghiburan, tetapi untuk membentuk hidup yang mencerminkan karakter Mesias.
Poin 3 — Imanuel Menyertai Kita untuk Membentuk Karakter yang Benar (ay. 3–5)
1. Allah menyertai kita untuk memberi kepekaan rohani (ay.3)
- Mesias “tidak menghakimi dengan penglihatan mata”.
- Roh Allah menolong kita melihat lebih dalam—melampaui tampilan luar.
- Dalam keluarga, pekerjaan, gereja—penyertaan Allah memberi kepekaan menghadapi situasi.
2. Allah menyertai kita untuk menegakkan keadilan (ay.4)
- Ia membela orang rendah dan lemah.
- Karakter Allah selalu memihak mereka yang tertindas.
- Penerapan: karyawan yang adil, pedagang yang jujur, pemuda yang berintegritas, orang tua yang tidak pilih kasih.
3. Allah menyertai kita untuk membentuk hidup dalam kebenaran (ay.5)
- “Ia memakai kebenaran sebagai ikat pinggangnya” — simbol kekokohan moral.
- Kata “kebenaran” = ṣedeq, menunjuk pada kehidupan yang lurus dan dapat dipercaya.
- Allah tidak hanya menyertai; Ia membentuk, mendewasakan, menguatkan.
- Mikha 6:8 — Hidup dalam keadilan, kasih, dan kerendahan.
- Efesus 6:14 — Ikat pinggang kebenaran dalam perlengkapan rohani.
Penutup
Saudara, Yesaya 11 mengingatkan kita: Imanuel hadir ketika hidup seperti tunggul. Ia menyertai kita melalui Roh-Nya. Ia membentuk karakter kita agar mencerminkan diri-Nya.
Seruan Respons Jemaat:
Mari berdoa:
“Tuhan Imanuel, hadir dan tumbuhkan tunas baru dalam hidupku.
Ubahlah aku dengan Roh-Mu dan bentuk aku menjadi serupa Engkau.”
Penutup Puitis:
Ketika hidup runtuh menjadi tunggul, Imanuel menumbuhkan tunas.
Ketika hati rapuh, Ia menaruh Roh-Nya yang menguatkan.
Ketika langkah goyah, Ia menuntun dengan kebenaran.
Dialah Allah yang menyertai sekarang dan selamanya.
Pantun:
Pagi cerah disambut mentari,
Burung bernyanyi di dahan sepi.
Imanuel hadir dalam hari demi hari,
Menyertai hidup hingga kekal nanti.