Imanuel: Allah Menyertai Kita

Khotbah Untuk : 24 Dec 2025
🏷Bacaan Malam Natal
Nats: Yesaya 11:1–5
👁 48x dibaca
belum ada rating

I. Pembukaan (Ice Breaker + Pertanyaan Retoris)

Pernahkah Saudara merasa hidup seperti pohon yang ditebang? Ada masa ketika kita kehilangan arah, kehilangan semangat, kehilangan harapan. Seorang karyawan bercerita: “Saya merasa seperti tidak ada masa depan. Tetapi justru di titik itu Tuhan memberikan jalan baru.” Dalam hidup, kita sering bertanya: “Apakah Tuhan masih menyertai saya ketika hidupku seperti tunggul?”

Umat Israel dalam Yesaya 11 sedang mengalami situasi seperti itu. Kerajaan Daud tampak runtuh — tidak ada kemuliaan, tidak ada kejayaan. Hanya tinggal tunggal (Ibrani: geza‘) yang tersisa. Namun Allah menyatakan sebuah kabar luar biasa: dari tunggul itu akan tumbuh tunas baru (Ibrani: ḥoter). Inilah janji bahwa Imanuel — Allah yang menyertai — akan datang.

Tema hari ini: “Imanuel: Allah Menyertai Kita.”


Poin 1 — Imanuel Hadir Saat Hidup Kita Seperti Tunggul (ay.1)

“Nya akan keluar tunas dari tunggul Isai.” Kata “tunggul” (Ibrani: geza‘) berarti batang yang dipotong, sesuatu yang tampak mati. Tetapi dari geza‘ itu muncul ḥoter — tunas hidup.

1. Allah menyertai dalam titik terendah

  • Israel kehilangan identitas, kekuatan, dan kejayaan. Namun Allah bekerja dari sisa yang tersisa.
  • Penyertaan Allah tidak selalu tampak megah; kadang hadir dalam “tunas kecil” yang hampir tidak terlihat.
  • Bagi jemaat yang merasa hancur, kehilangan pekerjaan, hubungan retak—Allah sering memulai karya baru dari keadaan paling kecil.

2. Tunas itu menunjuk kepada Mesias (ay.1)

  • Yesus lahir bukan dari istana, tetapi dari garis Daud yang tampak terputus.
  • Imanuel tidak hadir dalam kemegahan duniawi, tetapi dalam kerendahan.
  • Penyertaan Allah tidak selalu spektakuler, tetapi selalu sempurna.

3. Allah menghidupkan kembali apa yang kita anggap mati

  • Dalam pernikahan yang terasa kering—Allah dapat menumbuhkan tunas baru.
  • Dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan—di mana pun kita merasa “mati”, Tuhan berkata: “Aku hadir.”
Ayat Paralel:
  • Yesaya 53:2 — Mesias tumbuh seperti tunas dari tanah kering.
  • Matius 1:23 — Imanuel: Allah menyertai kita.

Transisi: Jika tunas itu menggambarkan kehadiran Mesias, maka ayat berikut menjelaskan bagaimana penyertaan Allah bekerja melalui Roh-Nya.


Poin 2 — Imanuel Menyertai Kita Melalui Roh-Nya (ay. 2)

“Akan ada Roh TUHAN yang hinggap padanya.” Kata “hinggap” (Ibrani: nāḥâ) berarti berdiam, menetap, bukan datang dan pergi.

1. Roh hikmat dan pengertian

  • Hikmat (Ibrani: ḥokmāh) — kemampuan melihat segala sesuatu dari perspektif Allah.
  • Pengertian (bīnāh) — kemampuan menafsirkan dan membedakan dengan tepat.
  • Bagi pekerja yang mengambil keputusan penting, orang tua yang membimbing anak, pemuda yang memilih masa depan — Roh Allah menyertai dengan hikmat.

2. Roh nasihat dan keperkasaan

  • Nasihat (‘ēṣāh) — kemampuan memberi arah yang benar.
  • Keperkasaan (gĕbūrāh) — kekuatan untuk bertindak.
  • Penyertaan Allah bukan hanya pengertian, tetapi juga keberanian menjalankan kehendak-Nya.

3. Roh pengenalan dan takut akan Tuhan

  • Pengenalan akan Tuhan (da‘at) — relasi yang intim, bukan sekadar informasi.
  • Takut akan Tuhan (yir’ah) — rasa hormat yang membentuk karakter.
  • Hidup yang disertai Allah adalah hidup yang semakin mencintai Dia.
Ayat Paralel:
  • Yohanes 14:16–17 — Roh Kudus menyertai kita selamanya.
  • Yesaya 61:1 — Roh Tuhan ada pada Mesias.

Transisi: Penyertaan Roh bukan hanya untuk penghiburan, tetapi untuk membentuk hidup yang mencerminkan karakter Mesias.


Poin 3 — Imanuel Menyertai Kita untuk Membentuk Karakter yang Benar (ay. 3–5)

1. Allah menyertai kita untuk memberi kepekaan rohani (ay.3)

  • Mesias “tidak menghakimi dengan penglihatan mata”.
  • Roh Allah menolong kita melihat lebih dalam—melampaui tampilan luar.
  • Dalam keluarga, pekerjaan, gereja—penyertaan Allah memberi kepekaan menghadapi situasi.

2. Allah menyertai kita untuk menegakkan keadilan (ay.4)

  • Ia membela orang rendah dan lemah.
  • Karakter Allah selalu memihak mereka yang tertindas.
  • Penerapan: karyawan yang adil, pedagang yang jujur, pemuda yang berintegritas, orang tua yang tidak pilih kasih.

3. Allah menyertai kita untuk membentuk hidup dalam kebenaran (ay.5)

  • “Ia memakai kebenaran sebagai ikat pinggangnya” — simbol kekokohan moral.
  • Kata “kebenaran” = ṣedeq, menunjuk pada kehidupan yang lurus dan dapat dipercaya.
  • Allah tidak hanya menyertai; Ia membentuk, mendewasakan, menguatkan.
Ayat Paralel:
  • Mikha 6:8 — Hidup dalam keadilan, kasih, dan kerendahan.
  • Efesus 6:14 — Ikat pinggang kebenaran dalam perlengkapan rohani.

Penutup

Saudara, Yesaya 11 mengingatkan kita: Imanuel hadir ketika hidup seperti tunggul. Ia menyertai kita melalui Roh-Nya. Ia membentuk karakter kita agar mencerminkan diri-Nya.

Seruan Respons Jemaat:
Mari berdoa: “Tuhan Imanuel, hadir dan tumbuhkan tunas baru dalam hidupku. Ubahlah aku dengan Roh-Mu dan bentuk aku menjadi serupa Engkau.”

Penutup Puitis:
Ketika hidup runtuh menjadi tunggul, Imanuel menumbuhkan tunas. Ketika hati rapuh, Ia menaruh Roh-Nya yang menguatkan. Ketika langkah goyah, Ia menuntun dengan kebenaran. Dialah Allah yang menyertai sekarang dan selamanya.

Pantun:
Pagi cerah disambut mentari,
Burung bernyanyi di dahan sepi.
Imanuel hadir dalam hari demi hari,
Menyertai hidup hingga kekal nanti.