Kasih Allah Besar akan Dunia Ini
Pernahkah Anda memperbarui kontrak kerja, memperpanjang SIM, atau menandatangani perjanjian baru—lalu beberapa minggu kemudian lupa isi komitmen itu? Kita bisa menandatangani dokumen di atas kertas, tetapi hati kita sering tidak ikut menandatangani. Karena masalah terbesar manusia bukan kurangnya aturan, melainkan hati yang mudah berpaling.
Minggu Remiscere mengajak kita “mengingat kembali”: bukan sekadar mengingat dosa dan kegagalan, tetapi mengingat Allah yang tetap mengasihi ketika kita berulang kali melanggar. Pertanyaannya: bagaimana kasih Allah bekerja ketika manusia gagal setia? Yeremia 31 menjawab: Allah tidak hanya memberi hukum; Ia memberi perjanjian baru—Ia menulis hukum itu di dalam hati, mengampuni, dan memulihkan relasi.
Latar Belakang Teks
Yeremia melayani pada masa gelap: Yehuda menuju kehancuran, pembuangan Babilonia semakin dekat. Mereka memiliki Taurat, Bait Allah, tradisi rohani—namun hidup mereka penuh kompromi. Yeremia 31 berada dalam bagian yang sering disebut “Kitab Penghiburan” (Yer 30–33): di tengah hukuman, Allah berbicara tentang pemulihan.
Di sinilah kasih Allah tampak bukan sebagai toleransi murahan, melainkan sebagai kesetiaan kudus: Allah menghukum dosa, tetapi Ia juga menyediakan jalan pemulihan yang lebih dalam—bukan hanya perbaikan perilaku, melainkan pembaruan batin melalui perjanjian baru.
Kerangka Khotbah (3 Poin)
I. Kasih Allah Melampaui Kegagalan Perjanjian Lama (Yer 31:31–32)
Allah berfirman: “Sesungguhnya, akan datang waktunya… Aku akan mengadakan perjanjian baru…” Kata “perjanjian” di sini adalah Ibrani berît: ikatan relasi yang diresmikan Allah dengan umat-Nya. Yang mengejutkan: Allah tidak berkata, “Aku selesai dengan kalian,” tetapi, “Aku akan membuat yang baru.”
Perjanjian lama “mereka ingkari” meski Allah “menjadi tuan atas mereka” (ay.32). Ungkapan “tuan atas” bisa juga dipahami sebagai gambaran suami perjanjian—Allah setia, umat tidak setia. Namun kasih Allah tidak menyerah.
- Kasih Allah realistis terhadap dosa manusia. Allah tidak naif: Ia tahu pola “ulang-ulang jatuh.” Karena itu Ia menyediakan solusi yang menyentuh akar, bukan hanya gejala.
- Kasih Allah adalah kesetiaan perjanjian. Bukan kasih yang berubah-ubah, melainkan kasih yang tetap mengejar pemulihan relasi.
- Kasih Allah membuka masa depan baru. “Akan datang waktunya” menyatakan harapan eskatologis: Allah sedang menyiapkan bab baru di dalam sejarah penebusan.
Ayat paralel (pendukung/cross reference):
- Keluaran 19:5–6 — Perjanjian Sinai: umat dipanggil menjadi kerajaan imam dan bangsa kudus.
- Hosea 2:19–20 — Allah “memperistri” umat-Nya kembali dalam kasih setia dan belas kasihan.
- Roma 3:20 — Hukum menyatakan dosa, tetapi tidak memberi kuasa untuk membebaskan.
Transisi: Jika perjanjian lama menyingkapkan masalah hati manusia, maka kita perlu bertanya: apa isi perjanjian baru itu? Yeremia menjawab: Allah memindahkan hukum dari batu ke batin—dari luar ke dalam.
II. Kasih Allah Mengubah dari Dalam: Hukum Ditulis di Hati (Yer 31:33)
“Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.” Kata “Taurat” (tôrâ) bukan sekadar aturan, tetapi pengajaran Allah yang membentuk hidup. Dan “hati” (Ibrani lēb) adalah pusat kehendak, pikiran, dan arah hidup.
Inilah inti pembaruan: Allah tidak hanya menuntut ketaatan; Ia memberi kapasitas untuk taat. Ia menulis kehendak-Nya di dalam kita, sehingga ketaatan bukan sekadar tekanan eksternal, melainkan kerinduan internal.
- Perubahan sejati bukan kosmetik rohani. Bukan hanya terlihat “baik” di gereja, tetapi dibentuk ketika tidak ada yang melihat—di rumah, di kantor, di pasar.
- Kasih Allah menciptakan identitas baru: “Aku akan menjadi Allah mereka.” Ini bahasa relasi: bukan sekadar “aku punya agama,” tetapi “aku milik Allah.”
- Kasih Allah menumbuhkan komunitas baru: “mereka akan menjadi umat-Ku.” Perjanjian baru bukan proyek individualisme; Allah membentuk umat yang hidup dengan nilai Kerajaan.
Ayat paralel (pendukung/cross reference):
- Yehezkiel 36:26–27 — Hati baru dan Roh baru; Allah memampukan kita hidup menurut ketetapan-Nya.
- 2 Korintus 3:3 — Kita adalah surat Kristus, ditulis bukan di loh batu, melainkan di loh hati.
- Roma 8:3–4 — Apa yang lemah pada hukum digenapi melalui Kristus dan Roh, supaya tuntutan hukum terpenuhi dalam kita.
Transisi: Namun pembaruan hati masih menyisakan satu rintangan besar: rasa bersalah yang menuntut hukuman. Bagaimana hubungan dipulihkan jika masa lalu terus mengejar? Yeremia menutup dengan puncak kasih: pengampunan total dan pengenalan Allah yang nyata.
III. Kasih Allah Mengampuni dan Membawa Pengenalan yang Menyelamatkan (Yer 31:34)
Ayat 34 adalah mahkota perjanjian baru: “Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Kata “mengampuni” (Ibrani sālaḥ) menunjukkan penghapusan kesalahan oleh Allah. “Tidak lagi mengingat” bukan berarti Allah amnesia, tetapi Allah memilih untuk tidak memperhitungkan dosa sebagai dasar relasi—Ia tidak lagi menagih utang itu.
Lalu: “mereka semua… akan mengenal Aku.” Kata “mengenal” di Alkitab bukan sekadar tahu informasi, tetapi relasi perjanjian—pengenalan yang mengubah hidup.
- Pengampunan Allah adalah dasar damai sejahtera sejati. Banyak orang sukses, tetapi dihantui masa lalu. Kasih Allah memutus rantai itu: dosa dihapus, bukan ditutup-tutupi.
- Pengenalan Allah bersifat merata: dari yang kecil sampai yang besar. Perjanjian baru membuka akses yang luas—bukan monopoli elit rohani—karena Allah sendiri yang mengajar umat-Nya.
- Perjanjian baru digenapi dalam Kristus. Dalam teologi biblika, Yeremia menubuatkan puncak yang kelak dinyatakan: Yesus mengikat perjanjian baru melalui darah-Nya.
Ayat paralel (pendukung/cross reference):
- Lukas 22:20 — “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku.”
- Ibrani 8:10–12 — Penulis Ibrani mengutip Yeremia 31 untuk menjelaskan karya Kristus sebagai Imam Besar perjanjian baru.
- 1 Yohanes 2:27 — Urapan-Nya mengajar; pengenalan akan Allah menjadi nyata dalam umat.
Hubungan Tema dengan Nats: “Kasih Allah Besar akan Dunia Ini”
Mungkin ada yang bertanya: teks ini untuk Israel, bagaimana dengan “dunia”? Justru di sinilah alur penebusan: kasih Allah kepada Israel bukan favoritisme sempit, melainkan saluran bagi berkat bagi bangsa-bangsa. Perjanjian baru yang dijanjikan kepada umat Allah mencapai puncaknya dalam Kristus, lalu Injil mengalir ke segala bangsa. Kasih Allah itu besar karena Ia tidak berhenti pada hukum di luar; Ia menembus hati, mengampuni, dan membuka pengenalan akan Allah yang menyelamatkan—hingga ujung bumi.
Aplikasi Praktis (Spesifik untuk Jemaat)
- Pegawai/karyawan: Banyak dari kita terjebak “ketaatan karena takut”—takut dimarahi atasan, takut kehilangan gaji. Perjanjian baru mengajar “ketaatan karena hati yang diubahkan.” Bekerjalah bukan untuk membangun identitas, tetapi karena identitas Anda sudah aman: “Aku akan menjadi Allah mereka.”
- Pedagang/pebisnis: Dunia usaha sering menekan: cepat, untung, saingan. Perjanjian baru menulis Taurat di hati: integritas bukan strategi marketing, tetapi buah hati yang disentuh Allah. Latih disiplin: jujur dalam takaran, menepati janji, bermurah hati pada karyawan dan pelanggan kecil.
- Pemuda: Anda mungkin lelah dengan standar rohani yang terasa mustahil. Dengarkan: Allah tidak hanya berkata “jangan,” tetapi Ia berkata “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batinmu.” Datanglah kepada Kristus; mintalah Roh Kudus menulis ulang keinginanmu.
- Orang tua: Ada yang hidup dengan beban “seandainya dulu…” Tuhan berkata: “Aku tidak lagi mengingat dosa mereka.” Di dalam Kristus, masa lalu tidak menjadi penjara; kasih Allah membuka masa depan yang damai.
Ilustrasi Nyata
Seorang guru bisa menempelkan aturan kelas di dinding: “Jangan berisik, jangan mencontek, hormati teman.” Tetapi aturan di dinding tidak otomatis membuat hati murid berubah. Yang dibutuhkan adalah pembentukan dari dalam: karakter, kebiasaan, dan cinta pada kebenaran. Demikian juga Allah. Ia tidak hanya menempelkan hukum di luar kita; dalam perjanjian baru, Ia menuliskannya di hati—supaya kita taat bukan karena terpaksa, melainkan karena dipulihkan oleh kasih.
Penutup (Seruan Respons Nyata + Nada Puitis)
Saudara, Remiscere—ingat kembali. Ingat bahwa Allah yang kudus tidak menawar dosa, tetapi Allah yang mengasihi tidak membiarkan kita binasa. Ia menjanjikan perjanjian baru: ketika hati yang keras dilembutkan, ketika hukum yang jauh menjadi dekat, ketika dosa yang memalukan dihapus, dan ketika Allah yang terasa jauh menjadi dikenal.
Respons kita hari ini bukan sekadar “ya, saya percaya,” tetapi respons perjanjian: menyerahkan hati. Datanglah kepada Kristus, Sang Penggenap perjanjian baru. Berdoalah: “Tuhan, tuliskan kehendak-Mu di hatiku. Ampuni dosaku. Jadikan aku umat-Mu.” Lalu hiduplah: berdamai dengan keluarga, berhenti dari dosa rahasia, bangun kebiasaan firman dan doa, dan bertumbuh dalam komunitas.
Kiranya kasih Allah yang besar itu tidak berhenti menjadi cerita lama, tetapi menjadi tinta ilahi yang menulis hidup baru di dalam kita—hari ini, besok, sampai kekekalan.
Pantun Penutup:
Ke kebun pagi memetik kedondong,
Singgah sebentar di pinggir danau;
Kasih-Nya besar menghapus kosong,
Hati ditulis, hidup pun baru.