Kasih Allah Besar akan Dunia Ini

Khotbah Untuk : 01 Mar 2026
🏷Khotbah Remiscere
Nats: Yohanes 3:1–17
👁 1x dibaca
belum ada rating

Pernahkah Anda berada di posisi “serba ada” tetapi tetap merasa ada yang kurang? Ada orang yang punya jabatan, relasi, bahkan pengetahuan agama, namun ketika malam tiba—saat sunyi memanjang—hati bertanya: “Apakah hidupku benar-benar lahir dari Allah? Mengapa aku masih kosong?”

Kita hidup di zaman informasi: tutorial ada, nasihat ada, motivasi ada. Tetapi yang paling sulit bukan menambah pengetahuan, melainkan mengalami pembaruan. Itulah sebabnya minggu Remiscere (ingat kembali) memanggil kita mengingat: bukan sekadar siapa kita di hadapan manusia, tetapi siapa Allah yang mengasihi dunia—dan bagaimana kasih itu melahirkan manusia baru.

Malam itu, seorang tokoh agama datang kepada Yesus. Namanya Nikodemus. Ia bukan orang sembarangan: Farisi, pemimpin Yahudi, terdidik. Namun ia datang “pada waktu malam.” Mengapa? Mungkin takut. Mungkin ragu. Atau mungkin, justru karena ia jujur: hanya di kegelapan, topeng bisa dilepas.

Latar Belakang Teks

Yohanes menulis Injil ini supaya kita percaya Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan oleh iman memperoleh hidup (bdk. Yoh 20:31). Pasal 2 menutup dengan catatan: banyak orang “percaya” karena tanda-tanda, tetapi Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka—karena Ia tahu hati manusia. Lalu pasal 3 langsung memberi contoh “hati manusia” itu: Nikodemus. Ia memiliki agama, tetapi belum memiliki kelahiran dari atas.

Di sini Yesus tidak menawarkan perbaikan moral sebagai langkah pertama. Ia menawarkan kelahiran baru. Dan pusat dari kelahiran baru itu adalah kasih Allah yang besar, yang dinyatakan melalui Anak yang dikaruniakan.


Kerangka Khotbah (3 Poin)

I. Kasih Allah Memulai dengan Kelahiran “dari Atas” (Yoh 3:1–8)

Yesus berkata, “Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata “dilahirkan kembali” memakai istilah Yunani anōthen, yang bisa berarti “lagi” dan juga “dari atas”. Yohanes sengaja memakai kata yang mengguncang: kelahiran baru bukan sekadar restart manusia lama, melainkan kelahiran yang sumbernya dari Allah.

  • Kesalehan tanpa kelahiran baru tetap buta. Nikodemus “melihat” tanda-tanda, tetapi belum “melihat” Kerajaan. Ada orang aktif pelayanan, rutin ibadah, tetapi hati masih dikuasai gengsi, iri, atau ketakutan.
  • Kelahiran baru bukan hasil usaha, melainkan karya Roh. Yesus menekankan “air dan Roh” (ay.5): gambaran pembersihan dan penciptaan baru. Roh Kudus memberi hidup seperti angin: tak terlihat, tetapi nyata dampaknya (ay.8).
  • Kasih Allah meruntuhkan kontrol manusia. Nikodemus ingin mengerti dengan logika “bagaimana mungkin?” Namun Yesus mengundang iman: percaya sebelum semua “mekanisme” dipahami.

Ayat paralel (pendukung/cross reference):

  • Yehezkiel 36:26–27 — Allah memberi hati baru dan Roh-Nya, memampukan umat hidup taat.
  • Titus 3:5 — “Ia menyelamatkan kita… oleh permandian kelahiran kembali dan pembaruan oleh Roh Kudus.”
  • 2 Korintus 5:17 — Dalam Kristus, manusia menjadi ciptaan baru; yang lama berlalu.

Transisi: Jika poin pertama menunjukkan kebutuhan kita—lahir dari atas—maka pertanyaan berikutnya: bagaimana Allah melahirkan kita baru? Jawabannya bukan teori, melainkan Pribadi: Anak Manusia yang ditinggikan.

II. Kasih Allah Menyembuhkan dengan Anak yang “Ditinggikan” (Yoh 3:9–15)

Nikodemus bertanya lagi, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?” Yesus membawa dia ke kisah Perjanjian Lama: ular tembaga (Bilangan 21). Umat berdosa, dihukum, terluka. Tetapi Allah menyediakan jalan: siapa memandang ular yang ditinggikan, ia hidup. Yesus berkata, “Demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.”

Kata “ditinggikan” dalam Yohanes memuat dua lapis makna: diangkat di salib dan dimuliakan. Di salib, dunia melihat kehinaan; namun iman melihat kemuliaan kasih Allah.

  • Dosa bukan hanya kesalahan; dosa adalah racun yang mematikan. Seperti gigitan ular, dosa melumpuhkan: relasi rusak, nurani tumpul, ibadah jadi sandiwara.
  • Kesembuhan datang lewat memandang dengan iman. Bukan memegang ular tembaga itu, bukan menganalisis logamnya, tetapi memandang—tindakan iman sederhana namun total.
  • Salib adalah pusat teologi kasih. Allah tidak mengasihi dengan slogan; Ia mengasihi dengan pengorbanan yang nyata.

Ayat paralel (pendukung/cross reference):

  • Bilangan 21:8–9 — Ular tembaga ditinggikan; yang memandangnya tetap hidup.
  • Yesaya 53:5 — “Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”
  • Yohanes 12:32 — Yesus ditinggikan untuk menarik semua orang kepada-Nya.

Transisi: Sampai di sini kita melihat: kelahiran baru dikerjakan Roh, dan kesembuhan terjadi karena salib. Tetapi Yohanes belum selesai. Ia menyingkapkan motif terdalam dari semua itu: kasih Allah yang begitu besar—bukan untuk sebagian, melainkan untuk dunia.

III. Kasih Allah Menyelamatkan Dunia melalui Anak yang “Dikaruniakan” (Yoh 3:16–17)

Inilah jantung Injil: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…” Kata “kasih” di sini adalah Yunani agapaō: kasih yang memilih, memberi diri, tetap mengasihi meski tidak layak. “Dunia” adalah kosmos: bukan hanya bumi, melainkan manusia yang jatuh dan memberontak—yang tetap Allah kejar.

Dan “Anak-Nya yang tunggal” adalah monogenēs: unik, satu-satunya, tak tergantikan. Allah tidak mengirim malaikat; Allah memberikan yang paling berharga.

  • Kasih Allah bersifat memberi, bukan menuntut. Dunia berkata: “Buktikan dulu baru aku percaya.” Allah berkata: “Aku memberi dulu supaya engkau percaya.”
  • Tujuan kasih Allah adalah hidup kekal, bukan sekadar hidup nyaman. “Hidup kekal” bukan hanya panjang umur, melainkan kualitas hidup dalam persekutuan dengan Allah mulai sekarang.
  • Yesus datang bukan pertama-tama untuk menghukum, tetapi menyelamatkan. Ay.17 menegaskan misi keselamatan. Penghakiman terjadi ketika manusia menolak terang (lanjutan ayat 18 dst.), tetapi hati Allah adalah menyelamatkan.

Ayat paralel (pendukung/cross reference):

  • Roma 5:8 — Allah menunjukkan kasih-Nya: Kristus mati ketika kita masih berdosa.
  • 1 Yohanes 4:9–10 — Kasih Allah nyata ketika Ia mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian.
  • Efesus 2:4–5 — Karena kasih yang besar, kita yang mati dijadikan hidup bersama Kristus.

Aplikasi Praktis (Spesifik untuk Jemaat)

  • Pegawai/karyawan: Jika identitas Anda selama ini ditentukan KPI dan penilaian atasan, hari ini Allah berkata: “Engkau bukan sekadar performa; engkau bisa dilahirkan dari atas.” Mulailah hari kerja dengan doa sederhana: “Roh Kudus, jadikan aku manusia baru di kantor ini—jujur, rendah hati, tekun.”
  • Pedagang/pebisnis: Godaan terbesar adalah mengakali timbangan, memelihara gengsi, mengejar untung tanpa belas kasih. Pandanglah Kristus yang ditinggikan: Ia menyelamatkan Anda bukan untuk menipu lebih canggih, tetapi untuk berdagang dengan integritas dan kemurahan.
  • Pemuda: Dunia menawarkan “lahir baru” versi media sosial: ganti gaya, ganti circle, ganti citra. Tetapi Yesus menawarkan kelahiran dari atas: ganti hati. Kalau malam ini Anda gelisah seperti Nikodemus, datanglah—Tuhan tidak menghina pertanyaanmu.
  • Orang tua: Ada penyesalan, ada beban keluarga, ada luka lama. Yoh 3:17 berkata: Yesus datang untuk menyelamatkan, bukan mempermalukan. Di dalam kasih-Nya, masih ada musim baru, bahkan di usia senja.

Ilustrasi Nyata

Bayangkan seorang pasien keracunan. Ia bisa membaca buku gizi, menonton video kesehatan, bahkan menasihati orang lain—tetapi racun tetap bekerja di dalam tubuhnya. Ia tidak butuh informasi tambahan; ia butuh antidot. Begitu juga kita. Kita bisa punya pengetahuan agama, tetapi dosa adalah racun. Kristus yang ditinggikan adalah antidot Allah. Kelahiran baru adalah hidup baru yang Roh kerjakan. Dan semuanya mengalir dari kasih Allah yang besar.


Penutup (Seruan Respons Nyata + Nada Puitis)

Saudara, Remiscere—ingatlah kembali. Ingat bahwa Allah tidak menunggu dunia menjadi layak baru Ia mengasihi. Ia mengasihi ketika kita masih malam. Ia mengaruniakan Anak ketika kita masih keras. Ia menawarkan kelahiran dari atas ketika kita masih terikat bawah.

Hari ini, responsnya bukan sekadar “setuju,” melainkan memandang Kristus dan percaya. Jika Anda lelah dengan religiusitas tanpa hidup, datanglah pada Yesus. Jika Anda terluka oleh racun dosa, pandanglah salib. Jika Anda merasa dunia terlalu gelap, dengarkan: Allah begitu mengasihi dunia ini.

Ajakan: Dalam doa, sebutkan dengan jujur: “Tuhan, aku butuh kelahiran dari atas. Aku percaya kepada Yesus yang Engkau karuniakan. Jadikan aku ciptaan baru.” Lalu wujudkan: berdamai dengan seseorang, hentikan dosa yang disembunyikan, mulai disiplin rohani, dan ikut bertumbuh dalam komunitas.

Pantun Penutup:

Pergi ke pasar membeli delima,
Pulangnya singgah di tepi kali;
Kasih Allah besar tak terkira,
Pandang Kristus, hiduplah kembali.