Memperkenalkan Perbuatan TUHAN

Khotbah Untuk : 28 Dec 2025
🏷Khotbah Setelah Natal
Nats: Mazmur 105:1–6
👁 166x dibaca
belum ada rating

Pembukaan Khotbah

Ice Breaker: Pernahkah Saudara membeli sebuah produk hanya karena direkomendasikan dengan penuh keyakinan oleh orang lain? Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang sering kali menentukan apakah kita percaya atau tidak.

Pertanyaan Retoris: Jika kita begitu mudah memperkenalkan produk, prestasi, atau bahkan diri kita sendiri, mengapa sering kali kita diam ketika harus memperkenalkan perbuatan TUHAN?

Mazmur 105 adalah nyanyian sejarah iman. Pemazmur mengajak umat Allah untuk tidak melupakan karya-Nya, tetapi secara aktif memperkenalkannya kepada dunia. Tema ini sangat relevan bagi gereja masa kini: memperkenalkan perbuatan TUHAN sebagai kesaksian hidup.

Latar Belakang Teks

Mazmur 105 diyakini digunakan dalam ibadah nasional Israel, kemungkinan besar berkaitan dengan pemindahan tabut perjanjian (bdk. 1 Tawarikh 16). Mazmur ini menekankan kesetiaan Allah dalam sejarah: dari Abraham, Ishak, Yakub, hingga pembebasan dari Mesir. Ayat 1–6 berfungsi sebagai panggilan ibadah dan dasar teologis untuk mengingat serta memberitakan karya TUHAN.

Poin I – Bersyukur dan Bersaksi tentang Perbuatan TUHAN (ayat 1–2)

Transisi: Ketika hati disentuh oleh kebaikan Allah, respons pertama yang lahir adalah ucapan syukur yang dinyatakan secara nyata.

1. Memanggil Nama TUHAN dengan Kesadaran Perjanjian

Kata “bersyukurlah” berasal dari Ibrani yadah (ידה) yang berarti mengakui dengan terbuka. Bersyukur bukan sekadar perasaan, melainkan pengakuan publik bahwa TUHAN adalah sumber hidup.

Ayat Paralel: Mazmur 107:1 – “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik.” Intinya: syukur berakar pada karakter Allah.

2. Memberitakan Perbuatan-Nya di Antara Bangsa-Bangsa

Kata “memberitakan” (yada) menekankan tindakan aktif. Iman yang sejati tidak disimpan, tetapi dibagikan.

3. Pujian sebagai Kesaksian

Pujian dan nyanyian (ayat 2) adalah sarana teologis untuk mengajarkan iman lintas generasi.

Aplikasi:
• PNS: bersaksi melalui integritas kerja.
• Karyawan: memuliakan Tuhan lewat etos dan kejujuran.
• Pedagang: bersaksi lewat keadilan dan kepercayaan.
• Pemuda: memakai media sosial untuk kesaksian iman.
• Orang tua: menceritakan karya Tuhan kepada anak.

Ilustrasi: Seperti lonceng gereja tua yang terus berdentang meski zaman berubah, demikianlah kesaksian tentang perbuatan TUHAN.

Poin II – Bermegah dalam Nama-Nya dan Mencari Hadirat-Nya (ayat 3–4)

Transisi: Kesaksian yang benar selalu membawa kita bukan kepada diri sendiri, melainkan kepada Allah yang hidup.

1. Bermegah dalam Nama-Nya yang Kudus

Kata “bermegah” (halal) berarti memancarkan sukacita. Nama TUHAN (shem YHWH) melambangkan pribadi dan otoritas-Nya.

Ayat Paralel: Yeremia 9:23–24 – Kemegahan sejati hanya di dalam mengenal TUHAN.

2. Mencari TUHAN sebagai Gaya Hidup

“Carilah” (darash) berarti mengejar dengan sungguh-sungguh. Iman bukan pasif, tetapi relasional.

3. Mencari Wajah-Nya Senantiasa

“Wajah” (panim) menunjuk pada kehadiran pribadi Allah, bukan sekadar berkat-Nya.

Aplikasi:
• Pemuda: membangun mezbah doa pribadi.
• Orang tua: menuntun keluarga mencari Tuhan.
• Pekerja: mengandalkan Tuhan dalam keputusan.

Ilustrasi: Seperti bunga matahari yang selalu menghadap matahari, demikianlah hati orang percaya yang mencari wajah TUHAN.

Poin III – Mengingat Karya dan Identitas Sebagai Umat Pilihan (ayat 5–6)

Transisi: Mencari Tuhan menolong kita mengingat siapa Dia dan siapa kita di hadapan-Nya.

1. Mengingat Perbuatan Ajaib-Nya

Kata “ingatlah” (zakar) berarti membawa ke dalam kesadaran aktif.

Ayat Paralel: Ulangan 8:2 – Mengingat jalan Tuhan membentuk kerendahan hati.

2. Mengingat Hukum dan Keputusan-Nya

Hukum Tuhan adalah ekspresi kasih dan keadilan-Nya.

3. Hidup dalam Identitas Perjanjian

“Keturunan Abraham” menegaskan identitas pilihan berdasarkan anugerah.

Aplikasi: Jemaat hidup bukan menurut label dunia, tetapi identitas rohani.

Penutup Khotbah

Saudara, dunia tidak hanya membutuhkan teori tentang Allah, tetapi kesaksian nyata tentang perbuatan-Nya. Mari kita menjadi umat yang memperkenalkan TUHAN lewat hidup kita.

Seruan Respons: Mari jemaat bangkit dan berkata: “Aku tidak akan diam, aku akan memperkenalkan perbuatan TUHAN!”

Ke ladang pagi memetik delima,
Disinari mentari penuh cahaya;
Perbuatan Tuhan jangan disimpan saja,
Beritakanlah, itulah hidup orang percaya.