SAAT TEDUH

Khotbah Untuk : 18 Jan 2026
🏷Remaja 2 Setelah Epipanias
Nats: Markus 1:35–39
👁 24x dibaca
belum ada rating

PENDAHULUAN – Ice Breaker & Pertanyaan Retoris

Pernahkah kamu bangun pagi, langsung pegang HP, cek notifikasi, scroll TikTok, Instagram, atau WhatsApp… lalu sadar, satu jam sudah lewat?

Sekarang pertanyaannya: kapan terakhir kali kamu bangun pagi hanya untuk Tuhan?
Bukan karena ujian. Bukan karena disuruh. Tapi karena rindu.

Hari ini kita belajar dari Yesus sendiri tentang saat teduh dan bagaimana itu membentuk karakter iman yang teguh.

LATAR BELAKANG TEKS

Markus pasal 1 adalah pasal yang sangat sibuk. Yesus mengajar di rumah ibadat, menyembuhkan orang kerasukan, menyembuhkan ibu mertua Petrus, dan orang-orang berbondong-bondong datang kepada-Nya sampai malam.

Secara manusiawi, Yesus sangat lelah. Namun justru di titik paling sibuk, Dia melakukan sesuatu yang mengejutkan: Dia menyendiri untuk berdoa.

I. SAAT TEDUH ADALAH PRIORITAS, BUKAN SISA WAKTU

Markus 1:35 – “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”

Kata Yunani untuk “tempat sunyi” adalah erēmos (ἔρημος) – tempat sepi, kosong, tidak ramai. Ini bukan kebetulan. Yesus sengaja menjauh dari keramaian.

  • Saat teduh bukan aktivitas tambahan
  • Saat teduh adalah fondasi kehidupan rohani
  • Tanpa keheningan, iman menjadi reaktif, bukan reflektif

Ayat Paralel:
Mazmur 5:4 – “TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku.”
Yesaya 50:4 – Tuhan membangunkan telinga setiap pagi.

Aplikasi Remaja Kota:
Di tengah jadwal sekolah, les, tugas, dan gadget, iman yang tidak punya waktu teduh akan rapuh. Bangun 15 menit lebih awal bisa mengubah arah satu hari.

Transisi: Namun, saat teduh bukan hanya soal waktu pribadi—itu juga membentuk respons kita terhadap tekanan.

II. SAAT TEDUH MENJAGA IDENTITAS DI TENGAH TEKANAN

Markus 1:36–37 – Murid-murid mencari Yesus dan berkata, “Semua orang mencari Engkau.”

Ini tekanan yang berbahaya: popularitas. Banyak orang membutuhkan Yesus, tapi Yesus tidak dikendalikan oleh tuntutan manusia.

Tanpa saat teduh:

  • Kita hidup untuk menyenangkan orang
  • Kita takut ketinggalan (FOMO)
  • Kita kehilangan arah panggilan

Ayat Paralel:
Galatia 1:10 – “Jika aku masih berusaha menyenangkan manusia, aku bukan hamba Kristus.”

Ilustrasi Singkat:
Seorang remaja yang selalu online, tapi jiwanya offline dari Tuhan, perlahan kehilangan kepekaan rohani.

Aplikasi Praktis:
Coba satu hari tanpa media sosial di pagi hari. Ganti dengan Alkitab dan doa. Rasakan bedanya.

Transisi: Dari identitas yang terjaga, lahirlah arah hidup yang jelas.

III. SAAT TEDUH MENGARAHKAN MISI HIDUP

Markus 1:38–39 – “Marilah kita pergi ke tempat lain… sebab untuk itulah Aku telah datang.”

Yesus tahu tujuan-Nya. Kata “datang” (Yunani: exēlthon) menunjuk pada misi ilahi, bukan sekadar perjalanan fisik.

  • Saat teduh memberi kejelasan panggilan
  • Saat teduh melahirkan keberanian berkata “tidak”
  • Saat teduh menuntun langkah pelayanan

Ayat Paralel:
Amsal 3:6 – “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Aplikasi Remaja:
Saat teduh menolongmu memilih pergaulan, sikap di sekolah, dan respon terhadap godaan.

AKTIVITAS KELOMPOK / MANDIRI

  • 7 Hari Saat Teduh Challenge: 10–15 menit setiap pagi
  • Jurnal: tulis 1 ayat, 1 doa, 1 komitmen
  • Sharing kelompok kecil: apa tantangan terbesar saat teduh?

PENUTUP – SERUAN & RESPONS

Karakter iman tidak dibangun di atas panggung, tapi di tempat sunyi.

Pantun:
Pagi hari mentari bersinar,
Burung bernyanyi di dahan cemara.
Jika iman ingin tetap tegar,
Mulailah hari bersama-Nya.

Mari bangun karakter beriman yang teguh—dimulai dari saat teduh.