Yesus Dijual
Pernahkah kalian merasa dikhianati oleh sahabat sendiri? Atau mungkin… pernahkah kalian mengecewakan Tuhan demi sesuatu yang kelihatannya “menguntungkan”? Bagaimana rasanya jika seseorang yang sangat kita kasihi justru menjual kita?
Hari ini kita belajar tentang satu peristiwa yang menyakitkan dalam sejarah keselamatan: Yesus dijual. Bukan oleh musuh-Nya, tetapi oleh murid-Nya sendiri—Yudas Iskariot.
I. RENCANA JAHAT YANG LAHIR DARI HATI YANG JAUH DARI TUHAN (Luk. 22:2-3)
Latar Belakang Teks: Peristiwa ini terjadi menjelang Hari Raya Roti Tidak Beragi dan Paskah. Secara teologis, ini adalah momen penggenapan tipologi Anak Domba Paskah (Kel. 12). Namun di tengah rencana keselamatan Allah, ada konspirasi manusia.
Ayat 3 berkata: “Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas”. Kata Yunani untuk “masuk” adalah eisēlthen (εἰσῆλθεν), menunjuk pada pengaruh yang menguasai. Ini bukan tiba-tiba. Hati Yudas sudah membuka pintu.
Penekanan Teologis:- Dosa dimulai dari hati yang memberi ruang pada keinginan salah.
- Yakobus 1:14-15 – Keinginan melahirkan dosa, dosa melahirkan maut.
- Efesus 4:27 – “Jangan beri kesempatan kepada Iblis.”
- Saat jauh dari pengawasan orang tua, siapa yang mengawasi hatimu?
- Apakah gadget, pergaulan, atau ambisi sekolah membuat hatimu menjauh dari Tuhan?
- Hati yang kosong dari firman mudah diisi kompromi.
Ilustrasi: Seorang remaja pintar di kota besar mulai menyontek karena ingin ranking satu. Awalnya kecil. Lama-lama ia tidak bisa berhenti. Hatinya sudah memberi ruang. Begitu juga Yudas.
Transisi: Rencana jahat dimulai dari hati. Tetapi hati yang salah akan menghasilkan keputusan yang salah.
II. HARGA YANG MURAH UNTUK MENGKHIANATI YANG TAK TERNILAI (Luk. 22:4-5)
Yudas berunding dengan imam-imam kepala. Dalam Injil lain disebutkan ia menerima 30 keping perak (Mat. 26:15), menggenapi nubuat Zakharia 11:12-13.
Kata “menjual” dalam konteks ini berkaitan dengan ide paradidōmi (παραδίδωμι) – menyerahkan, mengkhianati. Ironisnya, Yesus menyerahkan diri-Nya demi kasih, tetapi Yudas menyerahkan Yesus demi uang.
Penekanan Teologis:- Yesus adalah Anak Domba Allah (Yoh. 1:29).
- Harga 30 keping perak adalah harga budak (Kel. 21:32).
- Mesias dihargai seperti budak.
- Berapa harga yang membuatmu rela meninggalkan iman?
- Popularitas? Pacar? Nilai sekolah? Uang jajan?
- Menjual integritas dengan menyontek.
- Menjual iman demi diterima dalam geng.
- Menjual kesaksian Kristus demi viral di media sosial.
Ayat Paralel:
1 Timotius 6:10 – “Akar segala kejahatan ialah cinta uang.”
Mazmur 34:20 – Tidak satu pun tulang-Nya dipatahkan (penggenapan dalam penyaliban).
Transisi: Hati yang salah menghasilkan harga yang salah. Tetapi keputusan dosa selalu mencari kesempatan.
III. KESEMPATAN DOSA ATAU KESEMPATAN BERTOBAT? (Luk. 22:6)
Ayat 6 berkata Yudas mencari “kesempatan yang baik”. Kata Yunani eukairia (εὐκαιρία) berarti waktu yang tepat. Dunia mencari momentum untuk dosa, tetapi Allah memberi momentum untuk pertobatan.
Kontras Rohani:- Yudas mencari waktu mengkhianati.
- Yesus sedang menuju waktu penggenapan keselamatan.
Roma 5:8 – Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdosa.
Aplikasi Remaja:- Setiap hari kamu punya “eukairia”.
- Kesempatan membuka Alkitab atau membuka konten yang salah.
- Kesempatan membela teman atau ikut membully.
Aktivitas Kelompok:
- Bagi kelompok kecil. Diskusikan: “Apa 5 cara remaja masa kini bisa ‘menjual Yesus’?”
- Buat komitmen tertulis pribadi dan tempel di buku harian atau HP wallpaper.
- Games: “Trade or Treasure” – Fasilitator menyebut pilihan (Uang vs Iman, Popularitas vs Integritas). Remaja memilih dan menjelaskan alasannya.
Penutup: Seruan dan Respons
Yesus dijual, tetapi Ia tetap memilih mengasihi. Ia tidak berhenti menuju salib. Kasih-Nya tidak bisa dibeli, tidak bisa dijual.
Hari ini Tuhan bertanya: Apakah Aku cukup berharga bagimu?
Jangan jadi generasi yang menjual Yesus demi dunia. Jadilah generasi yang rela berkorban bagi Kristus.
Pantun Penutup:
Pergi ke pasar membeli kain,
Jangan lupa membeli pelita.
Jangan tukar Yesus dengan yang lain,
Sebab Dia setia sampai selamanya.
Doa: Tuhan, jaga hati kami. Jangan biarkan kami menjual Engkau demi hal yang fana. Amin.