Berharap kepada Allah yang Menyelamatkan

Khotbah Untuk : 14 Dec 2025
🏷Bacaan Advent III
Nats: Markus 1:1–8
👁 38x dibaca
belum ada rating

Pembukaan – Ice Breaker

Pernahkah Saudara mengandalkan aplikasi peta ketika tersesat? Semakin jauh kita salah jalan, semakin besar harapan kita bahwa peta itu benar-benar memandu ke tempat yang tepat. Kadang hidup juga seperti itu: kita merasa semakin tersesat, tetapi justru di situ kita paling berharap ada penunjuk jalan yang dapat dipercaya.

Bangsa Israel di masa Markus juga merasa tersesat—di bawah penjajahan Romawi, menunggu Mesias yang dijanjikan Allah. Namun Markus membuka Injilnya dengan sebuah deklarasi yang mengejutkan: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Dalam kata lain: “Inilah kabar yang ditunggu selama berabad-abad. Pengharapan itu kini hadir.”

Pertanyaan retoris: Ketika kita tidak tahu harus ke mana, siapakah yang menjadi penunjuk jalan kita?


Latar Belakang Teks

Injil Markus ditulis untuk jemaat non-Yahudi, kemungkinan di Roma, yang sedang menghadapi penderitaan. Markus ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dan penggenapan nubuat para nabi. Pasal pertama memulai dengan pelayanan Yohanes Pembaptis, sang “pembuka jalan,” yang menunjukkan bahwa masa penantian telah berakhir. Markus menekankan bahwa pengharapan Israel bukanlah ide positif, tetapi terpenuhi dalam pribadi Yesus Kristus.


Poin 1 – Pengharapan Sejati Berakar pada Kabar Baik Allah (Markus 1:1)

“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.”

Kata “Injil” berasal dari Yunani euangelion, berarti “kabar baik,” khususnya kabar yang mengubah nasib seseorang. Markus ingin menegaskan: pengharapan bukan dimulai dari situasi yang berubah, tetapi dari kabar bahwa Allah sendiri turun tangan.

Sub-poin:

  1. Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Kata “Kristus” adalah terjemahan dari Mesias (yang diurapi). Pengharapan Israel kini menjadi nyata.
    Ayat paralel: Yesaya 9:6 – “Seorang anak telah lahir bagi kita…”
  2. Yesus sebagai Anak Allah. Gelar ini menunjukkan otoritas ilahi-Nya yang menjadi dasar pengharapan umat.
    Ayat paralel: Mazmur 2:7 – “Anak-Ku engkau!”
  3. Pengharapan kita bukan perasaan, tetapi respon terhadap karya Allah.
    Ayat paralel: Roma 1:16 – Injil adalah kekuatan Allah menyelamatkan.

Transisi: Jika Injil adalah dasar pengharapan, maka Allah juga menyiapkan hati kita melalui panggilan untuk bertobat.


Poin 2 – Pengharapan Sejati Dimurnikan melalui Pertobatan (Markus 1:2–5)

Yohanes Pembaptis datang di padang gurun menyerukan pertobatan. Baginya, harapan tanpa pertobatan hanyalah optimisme kosong.

Sub-poin:

  1. Allah setia pada janji-Nya. Markus mengutip Yesaya 40:3 tentang suara di padang gurun. Ini menegaskan bahwa Allah menggenapi firman-Nya tepat waktu.
    Ayat paralel: Bilangan 23:19 – Allah tidak berdusta.
  2. Pertobatan adalah jalan menuju pengharapan. Kata “bertobat” diterjemahkan dari metanoeo – perubahan arah pikiran dan hidup.
    Ayat paralel: Kisah 3:19 – “Bertobatlah… supaya datang waktu kelegaan.”
  3. Pengakuan dosa membawa pemulihan. Orang banyak datang, mengaku dosa, dan dibaptis. Pengharapan mulai bekerja ketika kita jujur di hadapan Allah.
    Ayat paralel: 1 Yohanes 1:9 – Jika kita mengaku, Allah mengampuni.

Transisi: Setelah pertobatan membuka jalan, Markus menunjukkan siapa pusat pengharapan itu—Yesus sendiri.


Poin 3 – Pengharapan Sejati Terpenuhi dalam Pribadi Yesus yang Lebih Besar dari Segala Pengharapan (Markus 1:6–8)

Sub-poin:

  1. Yohanes rendah hati, Yesus diagungkan. Yohanes berkata: “Datang yang lebih berkuasa daripada aku.” Pengharapan Kristen tidak bertumpu pada manusia mana pun.
    Ayat paralel: Yohanes 3:30 – “Ia harus makin besar.”
  2. Yesus memberi baptisan Roh Kudus. Yohanes hanya membaptis dengan air, tetapi Yesus membaptis dengan Roh Kudus—pemberian hidup baru, kekuatan baru, dan pengharapan baru.
    Kata “baptis” (Yun: baptizo) berarti “membenamkan sepenuhnya,” tanda transformasi total.
    Ayat paralel: Yehezkiel 36:26–27 – Roh yang baru ditempatkan dalam hati.
  3. Yesus adalah jawaban final pengharapan. Jika Yohanes menyiapkan jalan, Yesus adalah jalannya.
    Ayat paralel: Yohanes 14:6 – “Akulah jalan…”

Aplikasi Praktis:

  • PNS & karyawan: Ketika tuntutan kerja berat, berharaplah pada Yesus yang memberi kekuatan melalui Roh Kudus.
  • Pedagang: Di tengah ketidakpastian ekonomi, andalkan Kristus lebih dari modal atau pelanggan.
  • Pemuda: Dalam pencarian jati diri, Yesus adalah identitas yang teguh.
  • Orang tua: Harapan untuk anak-anak bukan pada masa depan dunia, tetapi pada Tuhan yang memimpin hidup mereka.

Ilustrasi:

Seorang pendayung perahu di malam hari hanya melihat cahaya mercusuar dari jauh. Ia tidak tahu gelombang berikutnya, tetapi ia terus mendayung karena yakin mercusuar itu tidak bergerak. Demikian juga harapan dalam Kristus: Ia tidak berubah dan selalu memimpin kita pulang.


Penutup – Seruan Respons

Hari ini, Allah memanggil kita seperti Yohanes memanggil Israel: kembali kepada harapan yang benar. Yesus Kristus, Anak Allah, telah datang, membaptis dengan Roh Kudus, dan memberikan hidup baru.

Mari jemaat merespon dengan hati yang kembali percaya, kembali bertobat, dan kembali berharap kepada Dia yang menyelamatkan.

Pantun penutup:
Burung nuri terbang ke tepi,
Bertengger manis di ranting bidara.
Jika dunia tak memberi pasti,
Harapan pada Tuhan takkan binasa.