Bertobatlah, Kerajaan Allah Sudah Dekat
Pembukaan (Ice Breaker)
Pernahkah saudara menyalakan GPS di perjalanan jauh? GPS selalu berkata, “Belok sekarang… lurus… kembali ke arah semula!” Dan jika kita salah jalan, GPS tidak marah—dia hanya berkata, “Re-route.” Pertanyaannya: Jika GPS saja bisa mengarahkan ulang hidup kita, mengapa hati kita sering menolak ketika Tuhan memanggil untuk kembali ke jalan yang benar?
Hari ini, Minggu Advent II, kita diajak menyambut Sang Raja yang datang. Advent bukan sekadar kalender, tetapi seruan Allah: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”
Latar Belakang Teks
Matius 3 memperkenalkan Yohanes Pembaptis, seorang nabi terakhir sebelum Kristus datang. Ia melayani di padang gurun Yudea—tempat yang keras, tandus, namun menjadi lokasi persiapan rohani Israel. Kata “bertobat” berasal dari bahasa Yunani metanoeo—artinya berubah pikiran, arah, dan seluruh orientasi hidup. Pesan Yohanes sangat mendesak karena Kerajaan Allah tidak lagi jauh—sang Raja sudah berdiri di ambang pintu.
Poin 1: Pertobatan Adalah Respons Mendesak terhadap Kedatangan Kerajaan Allah (ay. 1–3)
Transisi: Jika suara Yohanes menggema di padang gurun, maka hari ini suara itu menggema di hati kita.
Ayat 2 berkata, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Kata “dekat” (engiken) artinya sesuatu yang hampir menyentuh, sudah mencapai ambang batas. Artinya, Allah bukan hanya akan datang—Ia sedang datang.
Sub-poin:
- Pertobatan sebagai perubahan arah total. Metanoia bukan hanya menyesal, tetapi mengubah haluan hidup. PNS, karyawan, pedagang, dan pemuda dipanggil untuk meninggalkan ego, kompromi, dan pola hidup lama.
- Pertobatan sebagai jalan bagi Tuhan. Ayat 3 mengutip Yesaya 40:3: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan.” Seperti jalan yang diratakan bagi raja, hati kita harus dibersihkan dari kesombongan, kepahitan, dan kelalaian rohani.
- Pertobatan menuntun pada hidup yang menghasilkan buah. Dunia tidak hanya mendengar kata-kata kita; dunia menilai buah hidup kita.
Ayat Paralel:
- Yesaya 55:7 — Orang fasik diminta meninggalkan jalannya dan kembali kepada Tuhan yang berlimpah ampun.
- Lukas 13:3 — Tanpa pertobatan, manusia binasa.
Poin 2: Pertobatan yang Sejati Terlihat dari Buahnya (ay. 4–10)
Transisi: Setelah mendengar seruan pertobatan, Matius menunjukkan seperti apa kehidupan orang yang sungguh bertobat.
Yohanes mengkritik orang Farisi: “Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” Kata “buah” (karpos) menandakan perubahan karakter, tindakan, dan integritas hidup.
Sub-poin:
- Pertobatan bukan penampilan luar. Pakaian bulu unta Yohanes bukan simbol asketisme, tetapi keaslian hati. Tuhan tidak terpesona oleh tampilan rohani; Ia mengamati kedalaman hati.
- Pertobatan menghasilkan gaya hidup yang berbeda. Pekerja yang jujur, orang tua yang bijak, pemuda yang bersih hatinya—semua adalah buah metanoia.
- Penghakiman Allah nyata bagi yang tidak bertobat. Ayat 10 menggambarkan kapak sudah diletakkan pada akar pohon—simbol penghakiman yang dekat. Advent adalah masa kasih, tetapi juga masa kesadaran akan kekudusan Allah.
Ayat Paralel:
- Galatia 5:22–23 — Buah Roh sebagai bukti hidup baru.
- Yakobus 2:17 — Iman tanpa perbuatan adalah mati.
Poin 3: Pertobatan Memimpin Kita kepada Kristus, Sang Pembaptis dengan Roh dan Api (ay. 11–12)
Transisi: Setelah menunjukkan buah pertobatan, Yohanes mengarahkan kita pada Pribadi yang menjadi pusat Advent: Kristus.
Yohanes berkata, “Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” Ini menunjuk kepada karya penyucian, pembaruan, dan pemurnian yang hanya Tuhan dapat lakukan.
Sub-poin:
- Kristus lebih besar dari nabi mana pun. Yohanes merasa tidak layak membuka tali kasut-Nya—simbol kerendahan hati dan pengakuan akan keagungan Mesias.
- Roh Kudus sebagai meterai hidup baru. Pembaptisan Roh Kudus berarti hidup yang dipenuhi kuasa, kekuatan untuk mengalahkan dosa, dan keberanian bersaksi.
- Api pemurnian sebagai proses kekudusan. Ayat 12 menggambarkan Yesus membersihkan lantai pengirikan—simbol pembersihan dan pemisahan antara gandum dan sekam. Allah memurnikan gereja-Nya.
Ayat Paralel:
- Yehezkiel 36:26–27 — Allah memberikan hati yang baru.
- Kisah 1:8 — Roh Kudus memberi kuasa menjadi saksi.
Penutup
Advent adalah seruan: Kembalilah! Perbaharuilah hati! Sambutlah Raja! Mari kita membuka hati, membuang ego, merobohkan tembok kesombongan, dan membiarkan Kristus memurnikan hidup kita.
Seruan Respons Jemaat:
“ Tuhan, bentuklah hati kami. Pulihkan kami. Jadikan kami umat yang siap menyambut-Mu.”
Pantun Penutup:
Ke pasar pagi membeli delima,
Disimpan rapi di dalam peti.
Bertobatlah, sambut Sang Raja mulia,
Agar hati bersih saat Ia datang kembali.