Kasih Karunia Tuhan Menyertai Kita

Khotbah Untuk : 31 Dec 2025
🏷Khotbah Malam Akhir Tahun
Nats: 2 Tesalonika 3:16-18
👁 48x dibaca
belum ada rating

KASIH KARUNIA TUHAN MENYERTAI KITA

2 Tesalonika 3:16–18

Pembukaan Khotbah

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pernahkah kita bertanya: “Di tengah dunia yang tidak pernah berhenti bergejolak, di mana sebenarnya damai sejati dapat ditemukan?” Sebagian orang mencarinya dalam kestabilan ekonomi, jabatan, relasi, atau kesuksesan. Namun semakin dikejar, semakin terasa rapuh. Ice breaker: Mengapa ketika semua tampak baik-baik saja, hati kita tetap bisa gelisah?

Rasul Paulus menutup suratnya kepada jemaat Tesalonika dengan doa yang sangat sederhana, namun sarat kuasa: damai sejahtera dan kasih karunia Tuhan menyertai kita. Penutup ini bukan basa-basi rohani, melainkan inti iman Kristen yang menopang hidup orang percaya setiap hari.

Latar Belakang Teks

Surat 2 Tesalonika ditulis kepada jemaat yang sedang mengalami tekanan: penganiayaan dari luar, kebingungan doktrinal tentang kedatangan Tuhan, dan kemalasan rohani sebagian anggota jemaat. Dalam konteks ini, Paulus tidak hanya menegur, tetapi meneguhkan. Ayat 16–18 adalah doa berkat (benediction) yang menegaskan bahwa kasih karunia Tuhan adalah sumber damai, kekuatan, dan penyertaan yang berkelanjutan.


Poin I – Tuhan Adalah Sumber Damai Sejahtera Sejati

“Kiranya Ia, Tuhan damai sejahtera, mengaruniakan damai sejahtera-Nya senantiasa dalam segala hal…” (ay. 16)

Transisi: Sebelum Paulus berbicara tentang kasih karunia, ia terlebih dahulu menegaskan tentang damai sejahtera.

  • Damai yang berasal dari Allah, bukan situasi
    Kata Yunani eirēnē menunjuk pada keutuhan, kelengkapan, dan harmoni. Ini sejajar dengan konsep Ibrani shalom. Damai bukan sekadar tidak ada konflik, tetapi hidup yang utuh di dalam Allah.
    Ayat paralel: Yohanes 14:27 – “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu…”
  • Damai yang terus-menerus (“senantiasa”)
    Paulus menekankan kontinuitas. Damai Tuhan tidak musiman. Ia menyertai kita di kantor pemerintahan (PNS), di pabrik dan kantor (karyawan), di pasar (pedagang), di bangku sekolah (pemuda), maupun di rumah (orang tua).
  • Damai dalam segala hal
    Bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam tekanan ekonomi, konflik keluarga, dan ketidakpastian masa depan.
    Ilustrasi: Seperti jangkar kapal yang menahan kapal tetap stabil di tengah badai, damai Tuhan menahan hati kita agar tidak hanyut.

Aplikasi: Jemaat diajak untuk tidak menggantungkan damai pada keadaan, tetapi pada Pribadi Kristus.


Poin II – Penyertaan Tuhan Nyata dalam Seluruh Perjalanan Hidup

“…Tuhan menyertai kamu sekalian!” (ay. 16b)

Transisi: Damai Tuhan tidak berdiri sendiri; ia berjalan bersama penyertaan-Nya.

  • Penyertaan bersifat personal
    Kata “menyertai” menunjukkan kehadiran aktif, bukan jarak jauh. Allah bukan hanya mengawasi, tetapi berjalan bersama umat-Nya.
    Ayat paralel: Matius 28:20 – “Aku menyertai kamu senantiasa…”
  • Penyertaan bersifat kolektif (“kamu sekalian”)
    Iman Kristen tidak individualistis. Dalam jemaat, kita saling menopang dalam penyertaan Tuhan.
  • Penyertaan memberi keberanian hidup benar
    Dalam konteks Tesalonika, penyertaan Tuhan memberi kekuatan untuk tetap disiplin, rajin, dan setia di tengah tantangan.
    Ilustrasi: Seorang anak berani berjalan di tempat gelap karena menggenggam tangan ayahnya.

Aplikasi: Sadari bahwa di setiap ruang hidup—rapat, transaksi, studi, dan pelayanan—Tuhan hadir.


Poin III – Kasih Karunia Tuhan Menjadi Penutup dan Dasar Hidup Orang Percaya

“Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kamu sekalian.” (ay. 18)

Transisi: Paulus menutup dengan fondasi terpenting: kasih karunia.

  • Kasih karunia (charis) sebagai anugerah murni
    Kasih karunia bukan upah, melainkan pemberian Allah. Kita hidup, melayani, dan bertahan karena anugerah-Nya.
    Ayat paralel: Efesus 2:8 – “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan…”
  • Kasih karunia berpusat pada Yesus Kristus
    Bukan konsep abstrak, tetapi pribadi yang hidup, mati, dan bangkit bagi kita.
  • Kasih karunia yang menyertai, bukan sesekali
    Ia menopang PNS agar tetap jujur, karyawan agar setia, pedagang agar adil, pemuda agar kudus, dan orang tua agar sabar.

Aplikasi: Hidupilah setiap hari dengan kesadaran bahwa kita berdiri oleh kasih karunia, bukan kekuatan sendiri.


Penutup Khotbah – Seruan Respons Jemaat

Saudara-saudari, jika damai Tuhan adalah sumber ketenangan, penyertaan Tuhan adalah kekuatan, dan kasih karunia Tuhan adalah dasar hidup, maka marilah kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Datanglah dengan hati yang percaya, dan hiduplah dengan iman yang taat.

Pantun Penutup:
Pergi ke ladang membawa cangkul,
Tak lupa bekal di pagi hari.
Kasih karunia Tuhan memayungi hidupku,
Damai dan setia menyertai sampai akhir nanti.